ART THEATRE

Mencipta Teater: Catatan Gagasan Karya Teater “Tubuh Membaca”

Suatu catatan “TUBUH MEMBACA” suatu implementasi gerak-respon dalam membaca kemungkinan-kemungkinan penyerapan energi lingkungan sekitar, membuat suatu frame mikro organisme tubuh ini tubuh itu, tubuh dimana-mana dan tak ada batasan diantara mereka…..semua menjadi pelaku dalam teater ini, batu, daun, tanah, penonton semua jadi satu…..

Inesia.ART – Tulisan sederhana ini merupakan catatan saya mengenai gagasan ide penciptaan karya teater, yang dipentaskan di Institut Seni dan Budaya Sulawesi Selatan (ISBI Sul Sel) pada tanggal 29/09/2018. Saya sedikit memberikan suatu pengantar tentang dasar dalam Penciptaan karyq saya.

Bicara soal penciptaan, saya begitu percaya bahwa penciptaan yang paling monumental adalah penciptaan alam semesta ini. Saya tidak tahu kalau orang lain juga punya pandangan begitu. Argument ini sudah sejak lama kupercayai dengan kesadaran yang sebetulnya waras dan tidak dalam keadaan kepura-puraan, waras seperti kebanyakan manusia yang kewarasannya memupuk praktek hoax. Eh, jadi ingat si “RS” yang pameran hoax kemudian hilang entah kemana.

Saya melihat bahwa, dalam soal mencipta karya seni dalam lingkup dunia akademik mulai semakin menurun produtivitasnya. Entahlah, saya juga tidal tau persis penyebabnya apa. Ada kemungkinan ini menyangkut soal kesibukan, kesempatan berproses, atau mungkin sudah diambang kemalasan atau karena faktor seseorang itu semakin uzur.

Saat ini, kebanyakan pelaku seni teater dan seni lainnya selalu menggarap karya dengan apa adanya, atau bisa dikatakan suatu larya digarap tanpa mempertimbangkan totalitas, padahal itu penting. Disisi lain, seseorang sedang mencoba eksperimen yang sama membuat kita mengetahui hasil-hasilnya (Brook, 2002). Intinya, di dunia ini ada dua kegiatan yang sering dilakukan; yang pertama manusia yang berproses mencari bentuk dan isi, sedangkan di sisi lain manusia hanya menikmati apa yang sudah ada.

Pada dasarnya, saya menyadari bahwa konsep ide gagasan teater yang saya buat kemungkinan bukanlah gagasan atau hal yang baru, tapi saya percaya bahwa ide gagasaan saya akan berbeda dengan ide gagasan yang sudah ada sebelumnya.

Dalam konsep teater saya ini merupakan  inspirasi dari tiruan bentuk teater tubuh, debus, pamanca (pencak silat) dan performance art.

Dalam hal ini juga saya dipengaruhi oleh hasil pertemuan saya dengan orang-orang yang menurutku punya nama besar seperti Dg. Pattangarang (pemain pamanca, Selayar) Tony Broer (Aktor, Bandung), Galuh Tulus Utama (Performance art, Aktor dan Sutradara, Surabaya), dan Ram Prapanca (Sutradara, Makassar).

Konsep ide gagasan dalam pengkaryaan yang saya buat, saya mencoba memadukan konsep performance art, teater tubuh, debus, dan  pamanca’. Saya menawarkan bukan pada satu bentuk yang utuh tetapi mencoba membongkar keutuhan kemudian menyatukan gagasan yang terkandung dalam unsur-seni yang disebutkan sebelumnya.

Pernah suatu hari Saya berdiskusi dengan beberapa teman teater yang kemudian dari hasil diskusi itu muncul pertanyaan yang amat memprovokasi dan menggelisahkan bagi saya. Saya agak sangsi dengan “kondisi di lingkungan kampus, proses mencipta capaiannya hanya kepentingan produksi saja” dan kedua mengenai “tenaga pengajar (baca:dosen) kurang  berhasrat yang kuat dalam mencipta karya lagi”.

Hal seperti tersebut di atas sangat mengusik sekaligus sebagai tantangan terbuka dan tentu saja jawaban dari pertanyaan itu belum bisadi jawab secara langsung pada diskusi saat itu. khawatirnya, saya tidak ingin menjawab dengan wacana tanpa bukti kongkrit yang membuat pernyataan saya hanya akan berlalu begitu saja.

1 2