Social & Culture

Meng-eksplor Sastra dan Budaya Melalui Makassar F8 2018

Perkembangan ilmu dan teknologi membawa arus pemikiran dan pemaknaan yang berbeda kalau bisa dikatakan bahwa sedang mengalami suatu krisis makna. Kerangka pola pikir manusia modern saat ini lebih mampu mencerap karakter dan dunia industri. tapi peranan teknologi industri juga sedikit banyak mempengaruhi perkembangan dan relasi dan perjumpaan budaya satu sama lain.

inesia.Art – Dialog sastra dan budaya pada Makassar International Eight Festival & Forum 2018 yang diadakan di Hotel Ballroom Aerotel Smile Hotel Makassar, pada tgl /10/2018 adalah salah satu item acara yang menarik dan edukatif. Dialog ini membahas soal perkembangan sastra dan tokoh di eranya serta bagaimana peran teknologi mempengaruhi perkembangan sastra dan budaya disetiap wilayah yang berbeda.

Ada beberapa pembicara/pemateri yang dipercaya dan didatangkan, baik dari luar maupun dalam Negeri dalam dialog sastra dan budaya  pada event F8 tahun ini. kita bisa sebut Ada seperti Halim HD, Aslan Abidin (Indonesia), Dr. Mohamad Saleh Rahamad (Malaysia). Mereka adalah orang-orang kompeten dalam bidang sastra dan budaya.

Dialog sastra dan budaya yang dimulai pada pukul 10 pagi sampai pukul 15:30 yang dibagi dalam dua Sesi. Pada sesi pertama pada pukul 10, didahului oleh Halim HD (Indonesia), Dr. Muhammad Puad Bebit (Malaysia) Muhammad Lutfi Ishak ( Malaysia) dan moderator Arhamuddin Ali. Di sesi ini banyak membahas masalah problem seni dan budaya di Indonesia, maupun Malaysia, terlebih pada problem peningkatan seni dan budaya ke jalur yang lebih baik.

Menurut info dari moderator Arhamuddin Ali  bahwa”ketiga pemateri itu melihat persoalan sastra dan budaya dari sudut pandang dan objek yang agak berbeda. Dr. Muhammad Puad  Bebit membahas sajak jenaka sebagai pendekatan menyampaikan pesan tersirat dalam masyarakat perkotaan.

Muhammad Lutfi Ishak menyoroti praktek kapitalisme suatu negara sehingga budaya sastra bukanlah hal pokok yang harus dijadikan hal utama justru sebaliknya sastra dianggap sebagai suatu hal kelemahan dalam pendidikan. Berbeda dengan Halim HD beliau menyoroti sistem politik kebudayaan kota dan melihat adanya pergeseran makna pada festival sebagai sarana perayaan masyarakat menjelma semacam praktek ekonomi politik

Pembahasan Dr. Muhammad Puad Bebit lebih melihat Penyair Jenaka dengan sajak-sajak yang lucu sebagai suatu pendekatan dalam menyampaikan suatu pesan. Meskipun jenaka, bukan berarti tidak memikirkan sajak-sajak yang berkualitas dan hal ini dianggap mampu menularkan suatu makna intrinsik di tengah pasar globalisasi atau perkembangan teknologi yang semakin maju.

Berbeda dengan Puad Bebit, Muhammad Lutfi Ishak menyoroti masyarakat Malaysia dalam dunia pendidikan lebih ditekankan bagaimana anak-anak diprioritaskan dalam memenuhi kebutuhan negara dan golongan siswa ini merupakan siswa unggulan. Sebaliknya, sastra hanya sebagai hal yang ke-sekian kedudukannya dan dianggap tidak terlalu penting bahkan sebagai simbol kelemahan atas siswa yang dianggap lemah. Dengan demikian sastra tidak mendapat tempat yang sebagaimana mestinya. Demikian dialog pada sesi pertama berakhir.

Sesi pertama berakhir pada pukul 11:30-an kemudian dilanjutkan kurang lebih pada pukul 13, di sesi ini, menghadirkan pembicara Aslan Abidin (Indonesia), Dr. Mohamad Saleeh  Rahamad dan moderator adalah Muhari Wahyu Nurba.

Dialog pada sesi ini, membahas soal perkembangan penyair-penyair dan bentuk Sastra dan kecenderungan seseorang dalam membuat sebuah syair yang kontradiktif seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh perkembangan teknologi.

Pemaparan Dr. Mohamad Saleeh Rahamad memaparkan soal sastra dan gender di era teknologi dan sistem informasi yang kian cepat. Dr. Mohamad melihat peranan wanita dalam perkembangan kesusastraan dengan memanfaatkan teknologi media sosial sebagai  sarana meningkatkan komunitas penyair.

Melalui media sosial, mereka-terutama penyair wanita merangkul penyair yang potensial yang pada dasarnya bukan alumni sekolah sastra, akan tetapi adalah seorang profesional seperti akuntan, atau advokad. Dalam prosesnya mereka membangun komunitasnya dengan membuat syair-syair yang agak tidak mainstream atau agak keras.

Berbeda dengan pemaparan Aslan Abidin, beliau lebih menyoroti persoalan kualitas syair dan penyair yang mengalami kemerosotan struktur kata yang berujung pada pendangkalan makna. Beliau mengatakan bahwa penggalan kalimat yang dibuat lebih bersifat akrobatik dan rendah kadar makna.

Peranan quote dalam struktur bait kalimat merupakan hanya sampiran, kemudian dewasa ini quote berkembang sebagai suatu hal pokok, dan peranan media sosial adalah hal paling mendasar dalam penyebaran kedangkalan makna. Media sosial seperti yang dimaksud, seperti instagram, tweeter dan sebagainya, sehingga di zaman saat ini sebagian generasi para penyair merupakan hasil kader atau produk media sosial dengan penuh kebingungan.

Demikian perkembangan sastra pada dasarnya menemui titik pergeseran yang namanya makna meskipun arti kata tak berubah, akan tetapi merubah pola pikir dalam menatap perkembangan masyarakat sosial budaya yang ada.

Makassar 16 Oktober 2018, 15:20 WITA