Poetic

Melihat dalam Gelap – Interogasi

Melihat dalam gelap kembali mengisi halaman ini, cerita tragis seorang pemuda malang, entah sampai kapan nasibnya berubah….kali ini sang pemuda dijadikan sebagai aktor yang terlibat suatu peristiwa yang semakin membuatnya terpuruk, hal yang tak diduga sebelumnya…..

 Interogasi

inesia.Art – Seperti awan hitam menyelimuti langit, seperti itu pula suasana hatiku yang dipenuhi kegelapan. Kemarahan telah menggelapkan pandanganku, hingga sepertinya aku sudah tidak bisa lagi melihat bahkan setitik cahaya sekalipun. Aku berjalan mengikuti kemana kaki melangkah, tak tau arah dan tujuan. Berjalan gontai menyusuri gang disebuah pemukiman yang kotor dan kumuh, entah dimana aku berada.

Aku terus berjalan dengan pikiran kosong, di pojok jalan aku berhenti. Kulihat sekelompok anak muda sedang asik bermain kartu disebuah pos ronda. Kudekati satu dari mereka untuk menanyakan nama jalan ini, dengan gaya santai pemuda berambut panjang dan bertato itu menjawab “Pleret mas!” Aku mengangguk dan melemparkan senyum. Pleret, nama jalan ini tidak asing bagiku. Pleret juga adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Bantul kota Yogyakarta. Dulu, beberapa waktu yang lalu nama Pleret pernah menjadi pusat pemberitaan dilayar TV.

Waktu itu tahun 2006, kecamatan yang terbagi menjadi 5 desa ini terkena bencana gempa bumi yang begitu dahsyat. Seperti yang diceritakan kak Nadia, bencana itu menyebabkan kecamatan ini sampai kehilangan 684 jiwa. “Gila…!” Pertanyaanya bukan terletak pada masalah banyaknya korban jiwa waktu itu, tapi justru kenapa aku bisa sampai ketempat ini? Aku sendiri tidak tau.

Pleret, artinya tanpa kusadari aku sudah begitu jauh dari rumah. Sejenak aku memperhatikan keadaan sekitar, sementara sekelompok anak mudah yang sedang asik  bermain kartu sama sekali tidak peduli dengan kehadiranku. Sampah dari makanan-makanan  kecil berserakan dimana-mana, juga beberapa botol minuman keras tergeletak disekitar anak-anak muda yang rata-rata berambut gonrong itu. Baru saja aku ingin beranjak pergi, tiba-tiba  tiga buah mobil patroli datang dan langsung mengepung tempat itu. Seketika tempat itu menjadi ramai tidak karuan.

Beberapa dari anak muda itu berusaha melarikan diri, tapi ada juga berusaha memberikan perlawanan. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan, sampai seorang polisi jatuh terjerembab tepat dihadapanku. Tubuhnya bersimbah darah dengan sebilah belati menancap diperutnya, aku panik sepanik paniknya.

Maksud hati ingin menolong polisi malang yang sudah tidak berdaya dihadapanku, tapi kemudian kurasakan sebuah benda keras menghantam tepat dibelakang leherku. Tubuhku limbung tepat diatas tubuh polisi yang sedang meregang nyawa, pandanganku berkunang-kunang dan aku kehilangan kesadaran.

Kawan…, kalian mungkin tidak percaya bagaimana buruknya nasibku. Nasib yang kemudian membawaku jauh dari tanah kelahiranku, jauh dari negeriku bahkan menjauh dari kakak dan Riantiku yang tercinta. Saat kubuka mata ini, aku berada diatas tempat tidur sebuah rumah sakit. Sesaat mataku mengerjap, mencoba menangkap siapa yang berada disekelilingku.

Dua orang lelaki berseragam polisi berdiri tepat disisi kananku, tubuhnya tegap dengan kulitnya berwarna kecoklatan. Disisi kiri kulihat seorang dokter paruh baya dengan kumis tipis menghiasi wajahnya yang telihat teduh, sementara dua orang suster berdiri tepat dibelakangnya. “Apa yang terjadi?” Suara serak keluar dari mulutku yang terasa kaku. Sekali lagi kuamati sekitarku, tapi sama sekali tak kulihat kak Nadia disana.

Kucoba bangkit dari tidurku, tapi kemudian dokter itu mencegahku. “Alhamdulillah kamu sudah sadar, sekitar 3 jam kamu tidak sadarkan diri sejak kamu dibawa kesini.  Bersyukur tidak ada cedera yang berat, kamu hanya butuh istirahat dan besok kurasa kamu akan baik-baik saja.” Begitu kata dokter sambil memeriksa detak jantungku dengan stetoskopnya.

Kawan, butuh beberapa saat baru aku bisa menyadari apa yang terjadi. Kedua petugas dari kepolisian itu menanyaiku beberapa hal mengenai identitasku, beliau juga menanyakan secara singkat tentang peristiwa yang kualami. Sebelum kedua polisi itu pergi, ia mempersilahkan menghubungi keluarga.

Aku menolak, bahkan kukatakan bahwa aku hidup sendiri. Aku tidak ingin melibatkan kak Nadia  dalam masalah ini, itu karena aku sangat menyayanginya dan juga karena aku masih begitu marah padanya. Malam ini terasa begitu panjang dari malam-malam sebelumnya, aku sama sekali tidak dapat memejamkan mata.

Kegelisahan melanda bukan hanya karena masalah yang aku alami, tapi karena aku tidak terbiasa tidur tanpa kak Nadia disisiku. Aku tidak begitu khawatir dengan masalah yang aku alami, itu karena aku merasa tidak berbuat apa-apa kecuali berada ditempat kejadian perkara. Aku justru mengkhawatirkan kak Nadia karena malam ini aku tidak  pulang kerumah, sama seperti diriku kak Nadia juga pasti tidak dapat tidur karena aku tidak berada disampingnya. “Wahai penguasa jiwa, tenangkanlah jiwa ini, buatlah malam ini segera berlalu dan aku ingin segera menemui kakak tersayangku!”

1 2 3