Poetic

Melihat dalam Gelap – Interogasi

Kawan, apakah ada diantara kalian yang pernah merasakan sama seperti apa yang kurasakan saat ini? Aku duduk dikursi pesakitan dengan perkara yang tidak aku mengerti, aku duduk sebagai terdakwa dalam sebuah kasus pembunuhan yang tidak pernah aku lakukan. Hakim memutuskan, bahwa aku atas nama Arya Bima Putra telah dinyatakan bersalah dengan hukuman 20 tahun penjara dipotong masa tahanan.

Kawan, apakah ini adil buatku? Dan apakah yang bisa aku lakukan dalam kondisi seperti ini? Aku rasa tidak ada lagi yang bisa kuperbuat, selain menerima atau menantang takdirku. Menerima takdirku, karena mungkin itulah konsekwensi yang harus aku terima karena sudah bersalah pada orang yang telah begitu banyak berjasa dalam hidupku.

Aku sadar, bahwa tidak seharusnya aku meninggalkan kak Nadia semarah apapun aku. Selama ini kak Nadia tidak pernah meninggalkanku dalam keadaan apapun, sudah seharusnya akupun tidak boleh meninggalkannya dengan alasan apaun.  Sementara menantang takdirku, aku tidak akan pernah bisa menerima hukuman ini karena aku tidak bersalah. Aku bersumpah, demi langit dan bumi, akan keluar dari balik jeruji besi itu dengan cara apapun.

Putusan pengadilan itu benar-benar menghancurkan hidupku, dan seperti mencabut semua keyakinanku pada pencipta alam semesta ini. Hari itu aku merasa bahwa Tuhan telah tidur, sampai akhirnya kebenaran yang ada padaku tidak artinya sama sekali.

Tuhan juga tidak melihat betapa besar penderitaanku, belum berapa lama kudapatkan kembali penglihatanku seteleh sekian lama hanya bisa melihat dalam gelap, aku kembali terlempar dalam kegelapan jeruji besi. Aku mohon maaf mewakili seluruh jiwa dan ragaku, sama sekali tidak ada maksudku mengecilkan Tuhan, tapi inilah kejujuran yang kurasakan saat ini.

Dalam tidur malamku, kadang aku berpikir dosa apakah gerangan yang telah aku lakukan hingga Tuhan menghukumku begitu rupa? Apakah karena aku tidak mencintai kedua orang tuaku? Tapi bukankah aku melakukan semua itu bukan tanpa alansan yang kuat? Entah sudah berapa ribu pertanyaan yang datang menghatui pikiranku setiap malamnya, tapi aku sama sekali tidak pernah menemukan jawabannya.

Hari ini telah benar-benar jauh dari kakak tersayang, dengan sebuah truck berjeruji besi telah mengangkut kami meninggalkan kota ini. Bersama 20 orang penghuni lapas dengan kasus pembunuhan, kami dilemparkan ke Nusa Kambangan. Betapa hancurnya hatiku ini, hancur hingga tidak bersisah lagi.

Hancur bukan karena membayangkan betapa berat hukuman yang harus kujalani nanti dipembuanganku, tapi hancur karena membayangkan bahwa kini aku benar-benar jauh dari kak Nadia. Membayangkan kak Nadia kembali hidup bersama ayah dan dua saudara tiriku, Membayangkan semua itu seketika dendam membara memenuhi jiwaku.

Kebencianku pada Satrio dan Satria kini telah berubah jadi sebuah dendam yang menuntut pembalasan. Satu hal yang perlu kawan tau, entah kenapa dan entah bagaimana bisa terjadi, Satrio dan Satria bisa menjadi saksi yang memberatkan aku dalam persidangan. Satrio mengatakan bahwa pada hari kejadian aku pergi meninggalkan rumah dalam keadaan marah, dan bahwa aku memang adalah bagian dari kelompok pemuda berandalan yang senang mabuk-mabukan.

Diakhir persidangan, Satria bahkan mendekatiku dan mengatakan dengan sinis bahwa ia akan membawa kak Nadia kembali tinggal bersama ayah. “Gila…, benar gila…! Aku sunggu tidak mengerti dengan semua ini.”

Kolaka – Sulawesi Tenggara

1 2 3