Music Studies

Toa-Adzan dalam Perspektif Musikologi Part III

Adzan sebagai sarana komunikasi religius, suatu ajakan dalam mendekatkan diri kepada sang khalik Allah Subhanahu Wa Taala, sumbang, fals, kurang konsonan dan sebagainya bukan suatu penghalang atas hal itu…akan tetapi sebaik-baiknya suatu hal dikerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh maka akan menghasilkan suatu yang luar biasa baik sebagai suatu cara dengan pendekatan bunyi yang teratur, konsonan, legit secara auditori.

Inesia.Art – Setelah beberapa pekan lamanya, kembali tulisan ini diterbitkan. Tulisan soal-an fenomena Adzan sebagai hal yang dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu ketentraman sebagian orang dan masyarakat tertentu. Fenomena Adzan ini pernah ramai dibicarakan dan menjadi trending topik di media sosial, dikalangan ibu-ibu kompleks perumahan, bapak-bapak dan anak muda/mudi di Warung kopi (Warkop) kalangan mahasiswa sampai para cendikiawan terpelajar.

Kembali kita meninjau persoalan Adzan sebagai sesuatu yang dianggap masalah atau gangguan atau sebagai hal yang mengusik ketenangan, kenyamanan orang atau masyarakat tertentu, bagaimana Adzan dengan perangkat audionya-sebagai penanda masuknya waktu Shalat bagi kaum Muslimin, semua hal tersebut sudah ditulis dalam artikel sebelumnya.

Hal-hal yang disebutkan di atas, juga termuat dalam aturan pemerintah yang sudah ditetapkan, sama halnya juga dengan tata cara Adzan. Tata cara Adzan dalam hal ini memuat soal bagaimana cara Adzan yang baik, indah, merdu dan sebagainya. Sehingga dari kalangan siapapun yang mendengarnya dapat menikmatinya.

Keindahan dalam melantunkan Adzan menjadi hal yang mendasar sebagai cara yang paling baik. Oleh karena sesuatu yang dikumandangkan juga merupakan lafaz Allah-seruan dalam mendirikan Shalat berjamaah di Masjid. Meskipun pada kenyataannya beberapa Muadzin melantunkan atau mengumandangkan Adzan dengan suara “sumbang”. Meskipun ini tidak menjadi persoalan dalam mengumandangkan Adzan-yang pada dasarnya adalah Adzan sebagai ajakan dan penanda masuknya waktu shalat bagi umat muslim.

Setiap Muadzin dalam melantunkan atau mengumandangkan Adzan itu beda-beda, ada yang melantunkannya dengan cara pengkalimatan yang kedengarannya sedih dan ada yang kedengarannya senang, gembira dan bahkan ada dengan cara pendekatan lokal daerah seperti pentatonik Jawa. Intinya bagaimana Adzan itu dilantunkan dengan cara yang berbeda namun kedengaran konsonan dan nyaman didengar. Jika kita berangkat dari hal ini, maka musik menjadi salah satu ilmu yang mampu memediasi atau alat bantu dalam memobilisasi Adzan sebagai suatu bahasa spiritual, religius bagi kaum Muslimin dalam meningkatkan hubungannya dengan sang Pencipta.

Lantunan atau cara mengumandangkan Adzan dengan indah adalah hal yang baik dan isi daripada Adzan itu juga merupakan kalimat Allah, persaksian, ajakan dan akan lebih baik ketika perlakuannya dengan cara yang lebih baik. Muadzin dalam hal ini merupakan figur yang punya peran sebagai jembatan dalam menyampaikan suatu pesan dan semangat religius. Maka dengan begitu Muadzin harusnya memiliki suatu cara atau memiliki skill dalam menyampaikan pesan tersebut.

Jika dalam musik, kita bisa menemukannya pada seorang player (pemain) instrumen musik dengan keahliannya dalam memainkan instrumen musik tertentu. Selain itu, seorang penyanyi atau Vokalis yang dituntut harus mempunyai kemampuan bernyanyi dengan baik. Tujuannya tak lain adalah agar mampu membuat penikmat bisa menikmati, memahami apa yang ingin disampaikan dalam nada dan syair dalam sebuah lagu yang dimainkan atau dibawakan. Sebab pada prinsipnya, semua orang bisa menyanyi tapi tidak semua orang adalah Penyanyi.

Kita lihat misalnya adanya kontes akademi dangdut, The Voice, Akademi Fantasi, Indonesia Idol dan lain sebagainya. Kita lihat upaya mereka dalam membina dan merekrut orang yang mempunyai dasar sebagai penyanyi yang memiliki kemampuan dalam olah vokal yang baik dan bernyanyi dengan baik. Saya kira itu adalah upaya yang baik dan bisa ditiru.

Sehubungan dengan hal tersebut, saya masih ingat, sewaktu saya masih duduk dibangku sekolah dasar dikampung saya sering diadakan pembinaan dan lomba qira’at maupun lomba Adzan, setiap sore sehabis pulang sekolah kami ke Masjid untuk berlatih, bahkan dipertandingkan sampai di tingkat Provinsi.  Namun, sekarang hal seperti itu sudah jarang ditemui, sehingga yang terjadi adalah muncullah Muadzin dengan lantunan Adzan yang kurang enak ditelinga. Situasi seperti itu sudah menjadi kebiasaan yang pada akhirnya dikondisikan yang ada dengan siapapun yang bisa melakukannya. Jadi dalam hal ini yang jadi masalah bukan Adzan-nya tapi adalah caranya dalam melantunkan Adzan, sama dengan seorang pemain musik atau penyanyi yang harus memiliki skill dalam menyampaikan suatu pesan di sebuah lagu.

Sebagai catatan bahwa para Muadzin dalam hal ini tidaklah hanya patut disalahkan seorang, namun beberapa elemen masyarakat mempunyai andil dan tanggung jawab dalam hal pembinaan ke arah yang lebih baik. Elemen masyarakat yang dilibatkan dan bisa dimaksimalkan perannya, semisal lembaga Remaja Masjid, Pemerintah daerah, para tokoh ataupun Ulama dan bahkan keterlibatan lembaga seni atau lembaga kajian seni terutama  musik.

1 2