Social & Culture

Sumpah Pemuda dengan Semangat Lokalitas dan Kebhinnekaan Tunggal Ika.

Peringatan hari sumpah pemuda bukan Cuma peringatan dengan seremonial belaka tapi peringatan ini lebih sebagai upaya pendekatan diri bagaimana memaknai sumpah pemuda sebagai latar kesatuan bangsa Indonesia yang berdasar pada Bhinneka Tunggal Ika.

Inesia.Art – Peringatan Sumpah Pemuda merupakan suatu kegiatan refleksi atas perjuangan para pemuda-pemudi pendahulu kita dalam persiapan kemerdekaan, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Sumpah pemuda yang merupakan tonggak lahirnya pergerakan kemerdekaan republik Indonesia pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), salah satu bukti kekuatan keberagaman dalam menghimpun mencapai tujuan mulia.

Pada tahun-tahun sebelumnya, terutama berdirinya pergerakan Budiutomo dan menginspirasi seluruh organisasi perhimpunan pemuda bersatu dan bergerak membentuk dan merumuskan satu tujuan dan menjadi kekuatan pergerakan bersama dari seluruh pemuda diberbagai daerah di Nusantara dengan satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air.

Sebagaimana kita ketahui bahwa lahirnya sumpah pemuda merupakan sebuah peristiwa politik, tapi dibalik itu semua ada kekuatan yang lebih besar yang memberikan suatu kesadaran edukasi tidak hanya suatu kemerdekaan, tetapi menemukan suatu pusaran kekuatan dari berbagai sumber kekuatan yang berbeda-beda menjadi satu. Berbagai macam kekuatan ini terdiri dari berbagai macam suku, budaya dan kepercayaan yang berbeda yang tersebar di Nusantara.

Sembilan puluh tahun berlalu, bagaimana kabarnya kekuatan-kekuatan itu ? ya…zaman memang sudah berubah tapi kekuatan tidaklah harus menghilang sirna ditelan masa. Mungkin banyak cara mengenang atau memperingati hari Sumpah Pemuda dengan berbagai macam acara dan seremonial. Dari berbagai pelosok Nusantara, berbagai macam kegiatan menjamur mulai dari sosialisasi hukum, anti korupsi, bahaya narkoba, kirab budaya napak tilas Sumpah Pemuda dan lain sebagainya.

Di Makassar Sulawesi Selatan, Peringatan Sumpah Pemuda dilaksanakan dengan memunculkan kekuatan lokalitas dan semangat kebhinnekaan dengan ritual adat Tolak Bala Nusantara.  Ritual macam ini sudah ada sejak dulu sebagai suatu tradisi menolak hal-hal yang jahat dan memohon keselamatan kepada sang pencipta jagat raya.

Berbagai macam komunitas, unsur pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat baik itu pemuda, seniman, budayawan, guru, siswa, mahasiswa dan lainnya membaur jadi satu. Bahkan ada peserta undangan dari Manado, Bali, Medan dan lainnya yang turut hadir di acara tersebut.

Selain itu juga ada enam agama resmi menghimpun kekuatan dan berdo’a bersama dengan tujuan berharap kepada Tuhan yang Maha Esa agar diberikan keselamatan dan dihindarkan dari bencana alam dan hal-hal jahat, yang bisa mengacaukan bumi Indonesia tercinta.

Peringatan Sumpah Pemuda ; Tolak Bala Nusantara pada hari Ahad tanggal 28 Oktober 2018 juga diwarnai dengan pelantikan Arung Matowa Bissu Bone sekitar pagi hari. Selain itu berbagai sajian seni tradisional seperti tarian, musik, Pa’raga turut andil dalam moment itu.

Setelah itu, sekitar pukul 15.00 Wita kirab budaya dengan peserta dari berbagai elemen masyarakat suku, agama, budaya dengan menggunakan kostum atau pakaian adat berjalan berkeliling atau palili, berjalan melalui rute yang telah ditentukan. Rute yang akan dilewati adalah jalan Diponegoro, Andalas, Buru, Wahidin Sudirohusodo, Sangir, Sulawesi, Ahmad Yani, dan Diponegoro.

Tujuan daripada kegiatan ini adalah mendoakan Negara, khususnya Kota Makassar agar selalu aman dan makmur serta Menolak Bala.

Peringatan Sumpah Pemuda kali ini tidak hanya menjadi tontonan yang menarik, tetapi seolah menjadi semacam oase di tengah perkembangan era globalisasi dan kegilaan zaman. Selain itu, memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana memaknai Sumpah Pemuda sebagai salah satu peristiwa penting sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.

Semangat lokalitas memberikan energi sebagai kekuatan akan pentingnya suatu tradisi. Perkembangan dunia dan pengaruh globalisasi modern seolah menjadi sebuah taman baru yang mampu menggerus nilai-nilai dan makna lokalitas sebagai sumber kekuatan utama.

Tentu saja perkembangan zaman merupakan keniscayaan dan pengetahuanpun akan berubah. Tapi perubahan itu tidaklah serta merta menjadi sumber kekuatan dalam menciptakan perpecahan.

Dengan keberagaman dan semangat budaya dnna lokalitas itu, akan menjadi pusaran kekuatan dalam menjaga stabilitas kesatuan dan persatuan bangsa menjadi satu tanah air dengan satu tujuan Indonesia yang tenteram.

Makassar 28 October 2018