Music Studies

Benarkah Musik itu adalah Bahasa…..???

Begitu banyak dan beragam pandangan soal musik, dan oleh karena itu juga pembahasan tentangnya semakin luas dan bertebaran sampai disentuh ranah disiplin ilmu lain. musik sebagai suatu modal interaksi simbolik dalam masyarakat…..musik seperti bahasa yang punya gramatika seperti bahasa dna keduanya sebagai media komunikasi secara luas……..

inesia.Art – Membicarakan musik tidak akan ada habisnya, selalu saja ada hal yang sifatnya membuat kita merasa, baik itu terpesona, terganggu, merasa heran dan sebagainya. Banyak hal yang bisa memantik membicarakan tentang musik dan atas apa yang ada dan dibalik musik itu sendiri.

Begitu fenomenanya musik dan persepsi orang tentang musik berbeda-beda, ada yang mengatakan musik sebagai sesuatu hal yang menyenangkan, sebagai hiburan, musik sebagai bahasa dan lain sebagainya.

Umumnya, banyak yang menganggap musik adalah bahasa karena digunakan sebagai suatu sarana komunikasi non verbal terhadap suatu perasaan tertentu. Pandangan ini tidaklah mesti disalahkan, karena iya adalah pendapat, lagian juga tidak ada kepastian tentang pemahaman musik sebagai apa. Musik mempunyai banyak varian pemahaman, tergantung seseorang memahaminya dalam kondisi dan konteks tertentu.

Namun dilain hal, musik juga mesti dipahami atau rethinking sebagai upaya dipikirkannya kembali sebagaimana musik dipahami bukan sebagai bahasa, namun musik sebagai salah satu media komunikasi.Tentu saja musik maupun bahasa (Language) merupakan media dalam mengungkapkan sesuatu yang berhubungan dengan emosi. Tetapi yang pasti bahwa keduanya mempunyai suatu hubungan dan gramatika tersendiri yang menyerupai.

Mungkin kita bisa pahami Bahasa secara sederhana sebagai suatu alat untuk mengungkapkan sesuatu dengan menggunakan kata-kata dan struktur kalimat sedemikian rupa. Selain itu, bahasa merupakan suatu sistem simbol-simbol yang dapat digunakan untuk menyatakan atau menerangkan hal-hal yang berkaitan dengan obyek material eksternal, hal mental internal, kualitas, relasi, tanda logika matematika, fungsi, keadaan, proses dan kejadian.

Penyandang bahasa adalah manusia seorang diri di antara makhluk-makhluk lain yang dapat mengungkapkan pikiran melalui bunyi yang sesuai dan cocok (Bagus;2005). Mungkin lebih jauh bahwa bahasa adalah struktur spesifik antara huruf, kata, kalimat, prase, sampai pada wilayah bahasa sebagai fungsi kognitif, ekspresif, seruan, bertanya dan sebagainya, bahkan ilmu semantik-bagaimana struktur kata beserta makna dan pergeseran maknanya.

Dalam arti bahwa bahasa juga mesti bunyi dan ungkapan yang dapat dipahami manusia secara umum. Tidak hanya itu, bahasa mempunyai struktur gramatika yang menarik dan tidak mudah, tapi jelas arti, maksud dan tujuannya, dalam konteks lain akan lebih sulit memahami bahasa itu sebagai suatu permainan kata.

Sama halnya ketika syair-syair Plato yang dianalisis berkali-kali dengan cermat dan teliti demi untuk menemukan makna, maksud dan tujuannya. Baik bahasa maupun musik merupakan media untuk mengekspresikan sesuatu. Keduanya mempunyai kesamaan, bahkan musik mengadopsi sistem dan struktur dalam bahasa atau gramatika bahasa.

Musik membentuk suatu struktur gramatika musikal dimulai dengan ide dasar note (nada, bunyi)-figur, motif sebagai salah satu unit terkecil, tekature, semi prase, prase, periode sampai pada bentuknya secara utuh sampai pada struktur yang le ih rumit (Stein Leon).

Beberapa elemen musik tadi pengolahannyapun beragam, motif misalnya dibangun sebagai landasan pokok dalam struktur melodi atau fragmen struktur nada/bunyi karena motif adalah unsur pokok dengan maksud dan tujuan tertentu dalam proyek musik.

Kemudian ada periodisasi bentuk kalimat yang di dalamnya terdapat half cadende dan authentic cadence. Kemudian bentuk syair dan musik tiga bagian atau dikenal juga dengan bentuk sonata tiga bagian.

Dikatakan juga bahwa musik itu bukan bahasa tapi musik seperti bahasa. Musik mempunyai struktur seperti bahasa yang mana mampu mengekspresikan sesuatu baik d

ari luar maupun dari dalam diri komposernya. Musik juga disusun berdasarkan maksud dan tujuan tertentu, seperti penyusunan note (nada, bunyi) berdasarkan pemilihan dan maknanya, hal ini juga berkaitan dengan tone semanthic (Adorno). Bagaimana note itu disusun saya kira itu tergantung dari komposer maupun orang yang menyusunnya.

Sama ketika seorang Frank Zappa melakukan suatu riset terhadap orang-orang sekitar dalam berinteraksi secara personal dan komunal, Frank Zappa melihat ada sesuatu yang menarik dari sisi ritmikal setiap orang dalam melakukan interaksi bahasa.

Pola-pola itu kemudian dieksploitasi dalam form (bentuk) dan struktur musik dari Frank Zappa ( Mack). Jika melihat uraian tersebut, musik dan bahasa banyak mengalami kemiripan dan keduanya adalah media dalam mengekspresikan sesuatu.

Sama ketika dalam sebuah konser, kadangkala ada seseorang yang bertanya “apa makna dari karya anda” karena musik tidak cukup bisa dipahami dengan mendengar saja, apalagi dengar hanya sekali, maka diperlukan suatu penjelasan melalui kata-kata yang mudah dipahami. Dan seketika itu mulai memikirkan dan terfokus kepada pikiran yang terhubung dengan musik.

Kemudian mulailah dijelaskan dan pada akhirnya mulai disadari bahwa kata-kata yang diucapkan sudah tidak berhubungan lagi dengan musik, pada saat itu hanya fokus pada bagaimana kalimat bisa berhubungan dengan kalimat lainnya. Pada persoalan ini yang menjadi hal pokok adalah bagaimana memikirkan cara bertutur kata dan sudah mulai melupakan karyanya (McDermott:2013).

Jelas bahwa dari beberapa pendapat di atas menjelaskan bahwa ada keterpisahan dan perbedaan mendasar dari musik dan bahasa. Musik itu bukan bahasa akan tetapi musik seperti atau menyerupai bahasa. Keduanya adalah media yang digunakan dalam berkomunikasi secara luas. Hal ini juga pernah dikatakan oleh Mauro Gaia dalam seminarnya “eksplorasi musik dan bahasa”.

Beliau mengatakan bahwa musik itu salah satu media komunikasi yang ekspresif dan menyenangkan, karena musik itu menyenangkan dan semua suka musik. Demikian tulisan ini hadir sebagai salah satu bentuk sumbangan pengetahuan dasar dalam menempatkan sesuatu, bukan juga membenarkan sesuatu. Semuanya relatif pada bagaimana orang mau memahami sesuatu, tapi juga tidak menawarkan sesuatu yang sifatnya arbiter.

 

Makassar 8 November 2018, 12:15 WITA