Music Studies

Pertunjukan Musik Inovatif : ‘Pasang dalam Bunyi-bunyian Mangkasara’

Menengok kembali pertunjukan musik inovatif (Pasang dalam Bunyi-bunyian Mangkasara’) oleh Maskur Al Alief sebagai sajian kuat bernuansa lokal tradisional Mangkasara’….pada tulisan ini banyak kutipan yang berasal dari buklet(booklet) dan pembicara atau pembedah yang hadir malam itu. Meskipun tidak ada pembedah khusus tentang musik pada malam itu, akan tetapi kutipan ini serta sajian video cukup membantu membuka tabir kompositoris dalam karya saudara Maskur Al Alief.

inesia.Art – Pada hari minggu malam tanggal 11 November 2018 di Gedung Societeit De Harmony kembali kita berinteraksi dengan beberapa teman, sahabat, para tokoh dan seniman maupun kerabat lainnya. Mungkin bisa dikatakan bahwa malam itu kelihatan istimewa dengan sistem pengelolaan penonton yang merupakan rentetan registrasi on line bagi para penonton jauh hari sebelum pertunjukan musik dimulai.

Di pintu masuk utama kita sudah disuguhkan nuansa wangi semerbak budaya tradisional, dengan tutur sapa dan polesan khas Makassar berupa pakaian adat khas Makassar-baju bodo, patonro maupun songko pamiring.

Para penonton/apresiator dibekali dengan kertas kosong, pulpen dan buklet (booklet) atau semacam poster  ukuran A3 yang berisi keterangan para pemain dengan kesan-kesan seorang Maskur terhadap mereka.  Di sisi lain, “sekapur sirih” yang isinya sesuai dengan kutipan buklet (booklet) ucapan terima kasih dan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Taalah Yang membunyikan Kun sehingga terlahir fayakun, dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW yang menyuarakan kebesarannya ke dalam bahasa kebudayaan.

Manusia menajamkan daya dengar demi membaca bahasa kebudayaan luhur yang tak lain bisikan Ilahiyah. Dikatakan bahwa kemampuan dalam membaca suara-suara tersebut tak lahir begitu saja dan dibutuhkan perenungan tinggi dan diskusi yang panjang.  Konser ini juga bukan digagas oleh Maskur sendiri, akan tetapi ada Tamatte Management yang berusaha mencorongkan bebunyi yang ditangkap dan digubah oleh Maskur Al Alief dan diamini oleh Moh. Sabri AR yang memandang autentitas kekaryaan pencarian dalam menemukan sisi spiritual dalam diri dan menyampaikannya di hadapan publik.

Kemudian di lembar lain, ada tentang seni pertunjukan, yang mengisahkan mencoba menarik kembali bunyi “Common sense” keluar dari mekanik musik yang lama memenjara bunyi dan berusaha menggali situs-situs bunyi dalam musik tradisional Makassar seperti puik, puik, suling Kajang, dan kesok-kesok beserta dukungan instrumen gesek dan instalasi bunyi-bunyian dengan “menenun bunyi dalam media kromatik musik simponi dengan pakem lokal Makassar”.

Masih dalam kutipan bahwa sebuah pertanyaan tentang apa itu merdu….? yang berhubungan dengan pendengaran kita yang selama ini terpenjara ke dalam pakem diatonis, dan bunyi lokal menjadi cercaan karena tidak berjalan di atas frekuensi selama ini oleh Barat, karena tak ingin kehilangan merdunya Barat, tanpa banyak timbang kita pun menundukkan bunyi khas lokal ke dalam pakem budaya asing. Bebunyian lokal kita kembali terjajah. Lalu apa yang masih Mangkasara…? masih merdukah..? ataukah bebunyian Mangkasara adalah teror atas merdunya musik Barat selama ini.

Pada pukul 20:30 acara telah dimulai dengan sajian instalasi kitoka (kecapi diatonis karsim yang senarnya telah disetel dengan nada-nada tertentu ke dalam sebuah kotak balok dengan ikatan beberapa senar nilon (orang Makassar biasa menyebutnya seutas tali Tasi) yang dimainkan oleh tiga pemain dengan mengadopsi gerakan pamanca (pencak silat) dengan pola-pola tabuhan ganrang yang ditransposisikan, dan instrumen biola yang dimainkan oleh Maskur sendiri dengan memainkan nuansa pentatonik dengan paduan passing tone dan improvisasinya.

Dibagian kedua karya tersebut adalah instrumen suling Basing Kajang yang dimainkan secara unisono oleh tiha pemain dengan dipadukan instrumen musik Gong  yang dimainkan oleh Maskut dengan memainkan pola ritme agak lambat dan perlahan cepat seperti pola-pola olahan ritme yang sangat teratur seperti menggunakan tanda sukat.

Dibagian ketiga adalah ansambel ganrang (gendang Makassar) yang terdiri dari empat ganrang dimainkan oleh empat pemain, puik-puik dan gong masing-masing dimainkan oleh satu pemain. Pada bagian ini beberapa pola ritme yang lazim digunakan dalam permainan ganrang dalam masyarakat Makassar itu gubah dengan cara mengurangi pola ritme dan menambahkannya, sehingga ketika didengar secara subjektif enak dan menarik.

Pada bagian ke empat itu adalah kelompok string biola dan cello, pada bagian ini dari awal sampai akhir pengolahan struktur nada dimainkan secara full dengan olahan ritme yang padat dan dinamika yang bergerak statis dalam wilayah ff.

Kemudian dibagian kelima adalah pemaduan instrumen ganrang, puik-puik, instalasi kitoka, instrumen semacam beduk, gong, kiring-kiring, syair appitoto (sejenis ratapan) serta kelompok Choir dengan format vokal SATB dan solo vokal tehnik seriosa.

Setelah pertunjukan selesai penonton diajak untuk tidak meninggalkan tempat karena ada sesi diskusi. Para pembedah yang hadir malam itu adalah K. H. D Zamawi Imron (Penyair), Dr. Mohd. Sabri AR ( Pakar mistisme Islam), Alwy Rachman (Budayawan), Mohamad Ichlas (Director at Cilay Ensemble).

Sebagai pembicara pertama Mohamad Ichlas menyinggung soalan konsep musik kontemporer dan seni tradisi sebagai dasar penciptaan karya musik dengan “kebaruan” melalui tiga aspek, yaitu, aspek spiritual (kekuatan dari dalam), aspek tekstual (wujud bunyi yang dilahirkan), aspek kontekstual (hubungannnya dengan aspek lain). Beliau juga menyinggung soal kondisi spiritual yang tidak mendapat tempat yang layak dalam masyarakat sebagaimana mestinya. Perlu ditingkatkan kesadaran manusia dalam berbudaya sekaligus pewaris kesenian tradisional yang mampu berdialog dengan dunia kini dan yang akan datang atau dialog komposer dengan masanya.

Lebih lanjut bahwa beliau sangat jelas menangkap semangat spiritual dalam spiritual dalam karya musiknya Mazkur dan mengatakan terkesima dan menyatakan salah satu komposer hebat yang pernah dia temui.

1 2