Music Studies

Bunyi-Bunyian Mangkasara’ Melahirkan Aktor-Aktor Terbaik.

Musik merupakan suatu struktur bunyi dengan berbagai macam modifikasinya, di dalamnya ada sebuah konsep gagasan yang ditawarkan sebagai musik secara teks dan kontekstualnya. Untuk mengetahui kontekstualnya maka perlu meraba tekstualnya biar tak gagal paham. Singkronisasi keduanya mesti terbangun agar tidak banyak menimbulkan pertanyaan yang banyak menyita waktu….harusnya bisa lebih fokus pada program yang berkelanjutan…

inesia.Art – Pada dasarnya tulisan ini merupakan suatu kritik dalam upaya memberikan masukan terhadap saudara, sahabat beserta teman-teman yang lainnya sehubungan dengan praktek berkesenian secara sosial dan budaya. Tulisan dan kritik ini juga bukan mau menunjukkan sikap sok pintar dan arogan, tapi berbagi dan sebagai sikap kepedulian terhadap perkembangan seni dan budaya yang lebih baik.

Sejak awal saya mendengar pewacanaan akan ada konser dari komposer besar kita di Makassar dengan mengusung isu pasang dalam bunyi-bunyian Mangkasara’, dan ini menurutku adalah cara yang menarik dalam upaya menggaungkan suatu jenis kegiatan tertentu.

Itulah sebagai nilai jual, bahkan kalau di Barat sana ada Vivaldi dan di Makassar ada Maskur Al Alief-keduanya sama-sama adalah orang yang sering bermain-main dengan bunyi, nada dan sejenisnya, atau kita mengenalnya sebagai komposer.

Meskipun mungkin sebagian orang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang berlebihan, tapi bagi saya tak apalah…toh saya tetap saja menulis apa yang ada……

Okay….saya langsung saja pada wilayah pertunjukannya, bahwa pada malam itu sebenarnya terkesan sangat menarik. Ada banyak hal yang menurut saya menarik dalam pertunjukan musik itu. Meskipun bukanlah sesuatu yang baru, instalasi instrumen musik seperti itu sudah sering dilakukan, tapi yang menarik adalah kotak itu sendiri dengan bunyi yang unik dari tali yang diikatkan pada balok persegi empat/kubus.

Suara yang dihasilkan seperti bunyi timpani namun tak bernada tapi efek bunyi yang unik. Instalasi instrumen musik Kitoka (kecapi diatonis karsim) mungkin mempunyai makna tersendiri dalam pertunjukan itu, bukan sekedar bunyi saja. Selain itu, rampak ganrang (gendang Makassar) dengan pola tabuhan Makassar yang telah digubah oleh Maskur Al Alief dan menjadi lebih aktraktif dengan karakter ganrang yang lebih menonjol.

Adanya kelas diskusi menambah daya tarik karena jarang ada pertunjukan seni di Makassar yang disertai dengan ajang diskusi, kecuali diskusi -diskusi wacana kesenian yang sering diadakan dalam ruang-ruang skop lebih kecil. Sesi diskusi malam itu cukup menarik perhatian masyarakat apresiator dengan dihadirkannya pembicara dari masing-masing keahlian, dan terkesan horor dan memberikan tekanan emosi.

Pembicara yang dihadirkan malam seperti K. H. D Zamawi Imron (Penyair), Dr. Mohd. Sabri AR ( Pakar mistisme Islam), Alwy Rachman (Budayawan), Mohamad Ichlas (Director at Cilay Ensemble).

Kita terlebih dahulu menengok kembali soal konsep ide gagasan yang ditawarkan oleh sang komposer, kalau kita perhatikan bahwa konsep ide gagasan sebenarnya beliau tidak jelaskan secara gamblang namun kita bisa mengetahuinya dari apa yang telah ditulis dalam buklet (booklet).

Berdasarkan pengalaman bermusik beliau selama ini, ada semacam kegelisahan mendalam tentang situasi dan kondisi seni tradisional yang semakin terkikis dengan adanya dan merasa terkurung dengan nada-nada diatonis Barat yang selama ini menjajah telinga dengan kemerduannya. Di sisi lain, keinginan kembali menggali situs-situs bunyi yang ada dalam seni tradisional Makassar-bunyi-bunyian Mangkasara’ sebagai pasang (pesan) para leluhur.

Hal-hal itulah yang mendasari dalam proses karya Maskur Al Alief yang dikemas dalam format instalasi kitoka dalam kotak transparan, beberapa instrumen ganrang Makassar, gong, beduk dan instrumen gesek Barat-biola, cello serta kelompok Choir. Perlu diingat bahwa wacana musik Barat sebagai hal yang dianggap sebagai power dan ancaman bagi perkembangan atau pelestarian budaya termasuk seni-seni tradisional daerah yang ada di nusantara Indonesia. Wacana Barat sudah sering dikeluhkan sampai saat ini.

Kurungan dan jajahan kemerduan diatonis dalam konteks musik pop mungkin menjadi masalah besar sebagian orang termasuk Maskur Al Alief. Namun ada apa dengan seni tradisional, jika kita melihat dengan jelas bahwa perkembangan seni tradisional dalam konteks musik, saya kira saat ini cukup menggaung.

Saya kira karya yang disajikan oleh Maskur pada malam itu juga merupakan sistem tonal, meskipun medium dan idium yang digunakan adalah tradisional, namun perlakuannya dengan sistem tonal. Jadi agak kontra antara mimpi dan hasrat, antara keinginan kesakralan tradisional dan keakraban sistem seni modern yang tidak sejalan.

Soal kekhawatiran tradisional yang mengalami kemerosotan akibat serbuan telinga kita dengan sistem diatonis dan kemerduannya, menurut Anto dalam sesi obrolan dimalam itu, menurutnya itu adalah isu 35 tahun yang lalu dan kita harus banyak berbuat saja dan mengurangi sedikit keluhan globalisasi modern.

Menyoal seni tradisi, kita bisa melihat salah satu contoh Gamelan Jawa yang sudah menjadi bahan penelitian secara serius dan terus menerus, bahkan masuk dalam kurikulum pembelajaran seni di sekolah-sekolah setara dengan tingkat dasar, menegah, sampai perguruan tinggi di luar negeri. Saya kira masih banyak lagi seni-seni tradisional lainnya yang mengalami perkembangan maupun eksistensinya semakin mapan dalam masyarakat pada umumnya.

Maskur adalah seorang yang mampu melihat aspek realitas di balik kenyataan permukaan dalam perkara tradisional sebagai padang (pesan) versus moderen sebagai diatonis-auditif konsumtif. Dunia permukaan lebih rendah derajatnya dari pada kenyataan yang ada dibelakangnya yang terlihat oleh seniman.

Cara pandang ini disebut cara pandang imajinatif. Seniman harus mampu menunjukkan suatu realitas baru dalam masyarakat, bukan hanya relitas yang dikenal masyarakat selama ini. Dengan begitu, adanya realitas baru, maka akan muncul suatu bentuk kenyataan baru dalam karya seniman (Sumohardjo;2000).

1 2