Music Studies

Musik dalam Perspektif

Kehidupan kita dikelilingi dengan bunyi-bunyian yang belum tentu bisa dikatakan musik, namun ketika diperhatikan sebagian besar ada yang musikal, dengan demikian peranan kesadaran akan hal-hal yang berhubungan dengan musik dan muatannya sangatlah vital….kalau tidak vital maka kita akan terseret dalam suatu dimensi yang entah dimana kita berada atau mungkin berada pada suatu ruang antah beranta……..

inesia.Art – Tulisan ini tidak menawarkan suatu metode tentang bagaimana membangun perspekttif melalui musik tetapi lebih melihat musik sebagai salah satu media komunikasi yang punya pengaruh besar dalam kehidupan manusia, baik itu dari segi energi auditori, visual dan kinestetiknya.

Pengaruhnya bisa saja beda-beda dari setiap manusia yang terkena dampaknya, mulai dari cara berkomunikasi, trend mode visual,-gaya mulai dari cara berpakaian, potongan rambut, dan lainnya. Selain itu ada pengaruh yang dititipkan dalam hal gaya hidup. Sehingga lambat laun manusia terutama generasi muda menjadi penganut atau meng-kultus-kan trend tersebut.

Peristiwa dan fenomena semacam itu memang tidak bisa dihindari, akan tetapi mencari solusi dalam meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh hal tersebut juga penting untuk dipikirkan. Minimal membuat suatu gagasan strategi penangkal hiruk pikuk perkembangan budaya bebas melalui media musik. Kenapa mesti musik…..?

Tidak bisa dipungkiri bahwa, pada umumnya setiap individu dalam mengkonsumsi musik, hanya terbatas pada pemahaman informasi bahwa musik itu terdengar “riang, gembira, dan sedih” pada beberapa jenis lagu tertentu yang didenganya.

Persepsi masyarakat dalam hal tersebut, mestinya dilihat lagi sebagai model hiburan seperti apa yang dimaksud dalam hal ini. Bahkan umumnya dalam contoh kasus seorang remaja pada saat mendengarkan “musik pop industri”, dengan jenis lagu tertentu yang menurutnya menarik, remaja itupun mempunyai penilaian tersendiri dalam mendengarkan jenis musik yang disukainya dengan mengatakan bahwa musik ini mengingatkannya pada kekasihnya yang meninggalkanya tiga tahun yang lalu.

Kalau kita melihat bahwa penilaian tersebut merupakan penilaian terhadap sebuah peristiwa sosial, bukan peristiwa musikal yang didalamnya terdapat banyak makna. Musik dalam kasus tersebut adalah memberikan rangsangan sebagai upaya mengingat peristiwa yang sudah berlalu dalam waktu dan merupakan sistem memori otak.

Secara khusus, musik dapat diartikan sebagai sebuah sistem neurologis dengan metode, tertentu dalam mereduksi bunyi maupun suara kosmos. Kesadaran akan hal ini sebenarnya mesti dimiliki oleh setiap individu sebagai manusia yang musikal. Bagaimana tidak, dalam hal ini, di lingkungan kita sendiri mungkin sebagian besar tidak menyadari dampak negatif dari pada bunyi noise.

Hal ini sebenarnya sudah diwacanakan oleh salah seorang komposer Indonesia Slamet Abd Syukur, beliau mengatakan perlunya kita menyikapi hal-hal yang besifat merusak sistem auditori manusia yang mengarah pada polusi bunyi.

Ditegaskan dalam pernyataannya bahwa pentingnya suatu pendengaran dimana telinga adalah fungsi utama dalam hal tersebut, telinga adalah bagian tubuh yang mentransfer sistem informasi auditori yang disebarkan ke saraf rangsangan yang dapat merespon sesuatu, misalnya apabila anda dihina, suhu badan anda akan naik dan telinga anda jadi merah hihihih….dan jika seandainya pendengaran terganggu bahkan mengalami hearing loss atau tuli maka kita merasa terpencil dari hal-hal yang sifatnya hilangnya niat dan kemampuan memahami serta mengingat sesuatu (Syukur Abd;2012).

Melihat peristiwa dalam masyarakat sehubungan dengan mendengar musik tertentu, wacana polusi bunyi-suara nois yang melampaui batas pendengaran telinga manusia seikitar 124 DB sebagai standar ambang batas pendengaran yang relatif lebih toleran (       ), memang semestinya mendapat perhatian bagi kita semua, meskipun kemampuan pendengaran kita lambat laun akan berkurang seiring dengan bertambahnya umur, akan tetapi dalam kondisi lebih awal bisa diantisipasi agar pendengaran kita masih tergolong layak pake-lah.

Selain dari pada itu, polusi bunyi sebenarnya bukan hanya pada persoalan menyikapi hal tersebut tadi, akan tetapi menyikapi musik secara kolektif terhadap jenis musik apa, kontennya apa, kualitasnya gimana, maupun hal-hal yang lain yang menjadikan musik tersebut dapat merusak mentalitas baik sebagai pendengar, penikmat, pengamat, maupun komponisnya sendiri, karena percayalah jenis musik yang masuk dalam kategori musik yang kurang berkualitas akan mempengaruhi selera lingkungan masyarakat setempat.

1 2