Music Studies

Menatap Musik Sebagai Absolut dan Programa

Tidak bisa dipungkiri bahwa musik pada dasarnya disukai oleh semua orang, namun tidak semua orang bisa memahami “musik” sebagaimana musik. Sebagian besar mengetahui bahwa musik membawa suatu cerita yang terhubung dengan kisah atau pengalaman hidup seseorang. Namun sebagai seorang  yang berkecimpung dalam dunia musik mestinya mampu berbicara soal ide gagasan musik baik itu secara musik sebagai absolute maupun programa. Keduanya merupakan kategorisasi yang seharusnya bisa dipahami dalam teks maupun kontekstualnya agar bisa nampak apa yang dilakukan sebagai seorang yang bergelut di dunia seni musik……

inesia.Art – Seringkali kita mendengar musik sebagai hal yang dapat menceritakan sesuatu-entah berupa suatu peristiwa atau suatu kisah dan sebagainya, yang tentu saja sebagai perwakilan dari perasaan seseorang baik itu sebagai komposer, pemain, kritikus, maupun penikmat dan pendengar. Dalam hal ini, musik digolongkan sebagai suatu bahasa yang mengungkapkan sesuatu sehubungan dengan pengalaman hidup.

Disamping itu, ada juga yang menganggap bahwa musik merupakan aktifitas artistik, dalam arti bahwa kepentingan keindahan hanya betul-betul ada dalam ruang lingkup musik sebagai sesuatu yang bersentuhan dengan unsur dan elemen yang saling terikat dalam komposisi musik.

Anggapan bahwa musik sebagai sesuatu yang menceritakan umum terjadi di kalangan masyarakat pada umumnya, itu merupakan asumsi yang wajar sebagai bentuk interaksi musik dan penikmatnya. Namun ada sesuatu yang esensial selain daripada itu, mungkin masyarakat umum seperti pendengar, penikmat merupakan sesuatu hal yang tidak penting dalam hal itu dibandingkan dengan mendengarkan musik dengan caranya sendiri.

Namun tidak sama halnya dengan sebagian dari kalangan pengamat, kritikus, akademisi maupun komposer yang turut serta hanyut dalam buaian musik mendongengkan suatu cerita.  Mungkin sebagian dari kita bertanya masalahnya dimana jika keadaannya seperti itu.

Baca Juga : 

Musik memberikan suatu kesan, informasi yang universal, cara tanggap orang tiap mendengarkan musik beda-beda, seperti halnya anak SD, SMP, sampai pada komposer sebagai pembuat musik, pasti berbeda dalam memberikan suatu tanggapan atau penilaian terhadap musik. Terkadang hal itu juga menjadi kenyataan dalam masyarakat kita terutama dari kalangan akademisi maupun non akademisi.

Kita lihat misalnya ketika mahasiswa diberi tugas membuat suatu konsep ide gagasan dalam membuat komposisi musik, bukannya mereka membuat suatu kerangka dalam membuat musik tapi mereka lebih mengutamakan membuat suatu cerpen (cerita pendek) dan novel mini. Hal-hal seperti ini juga terjadi dikalangan non akademik pada wilayah tertentu, alhasil mereka dalam menjelaskan karyanya, bukan menjelaskan musik akan tetapi menjelaskan atau lebih dekat dengan mereka jadikan ajang curhat-curhatan.

Pemaparan dalam karya musik, biasanya lebih banyak bingungnya ketimbang memahaminya. Begitupun dalam suatu konser musik disertai dengan adanya dialog tentang musik maupun pewacanaannya, di daerah Makassar misalnya, membicarakan musik porsinya jauh lebih sedikit ketimbang referensi eksternalnya. Kita tau bahwa sebagai orang antropologi dalam melihat musik pasti lebih banyak porsi antropologinya dibandingkan dengan musiknya, begitu juga dengan sejarah dan ilmu lainnya.

Suatu karya music dibuat ttentu ada pertimbangan baik dalam aspek komposisinya maupun dari aspek ekstra musikalnya. Artinya bahwa seorang komposer mampu menangkap realitas dibalik permukaan yang nampak sebagai dasar ide gagasan musik, tetapi sangat jarang orang musik bahkan komposer berbicara tentang musik sebagai suatu komposisi.

Semuanya larut dalam suatu obrolan pada referensi eksternal daripada musiknya, dan memang betul bahwa pandangan seperti itu merupakan musik sebagai kategorisasi programa-musik yang selalu mengandung ekstra musikal, atau terdapat suatu referensi eksternal yang terikat dalam struktur musik yang dibuat oleh komposernya. Selain itu ada juga kategorisasi musik absolute-musik dengan melihat unsur dan elemen yang saling mengikat satu sama lain dengan maksud dan tujuan tertentu yang dilekatkan pada faktor kreatifitas komposer dalam menyusun elemen musik dan kompostorinya.

Jika melihat musik secara programa, bahwa kita bisa mengatakan bahwa musik itu sudah sejak dahulu mempunyai referensi eksternal atau selalu terikat dengan hal yang bersifat ekstra musikal-selalu membawa suatu pesan atau makna penggambaran kosmos. Tentu saja ini betul, namun kita ada dalam wilayah musik yang sudah pasti musik sebagai media atau rumah bagi sesuatu yang ingin diungkapkan.

Sama seperti halnya dengan rumah adat Bugis dengan segala macam unsur dan elemen yang digunakan misalnya ada unsur jenis kayu yang digunakan, misalnya ada kayu raja, batu keras, tanah, besi dan sebagainya yang diolah dalam bentuk papan dijadikan sebagai dinding dengan segala bentuk ornament semisal bentuk sulapa appa, kemudian kayu raja sebagai kerangka dasar atap rumah karena konon dipercaya jenis kayu ini hanya boleh digunakan pada bagian atas rumah, tidak untuk lantai karena dipercaya dapat mengakibatkan malapetaka bagi pemilik rumah.

Saya kira hal tersebut dapat dilihat juga dalam musik sebagai mana unsur dan elemen yang terdapat di dalamnya dapat merefresentasikan gagasan musik sebagai manifestasi transendental dan representasu dunia secara kosmik.

1 2