Paint Art

Kontestasi Antar Perupa : Politik Identitas Seniman Kontemporer

Peranan pemuda dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu hal yang positif sebagai upaya perkembangan suatu budaya dan bangsa yang lebih maju. Sebagai suatu bangsa dan negara yang kaya akan keaneka ragaman budaya di dalamnya memungkinkan menciptakan suatu arena-arena baru dalam pergolakan budaya yang lebih maju dan membawa pada perkembangan manusia yang lebih baik. Seni sebagai salah satu media yang tentu saja turut serta sebagai hal yang dapat mengkomunikasikan suatu nilai-nilai dalam masyarakat pendukungnya…

inesia.Art – Tulisan ini merupakan kumpulan pokok-pokok pikiran tulisan penelitian pada kesempatan ujian terbuka promosi program doktoral (S3) Muh. Faisal MRA di bidang ilmu antropologi Universitas Hasanuddin Makassar yang berlangsung pada hari rabu, tanggal 28/11/2018; di Aula Prof. Syukur Abdullah FISIP UNHAS.

Dalam penelitian ini, Faisal melihat keadaan dan situasi perkembangan manusia seni rupa di Makassar berdasarkan kacamata antropologi dengan kajian seni sekaligus sebagai peluang berbagi pengetahuan pada kesempatan promosi program doktoraĺ ;

Tim Promotor ;

  • Promotor       : Prof. Dr. Supriadi Hamdat, MA
  • Co-Promotor : Dr. Muhammad Basir, MA
  • Co-Promotor : Dr. Halilintar Lathief, M.Pd

 

Tim Penguji ;

  • Penguji Eksternal : Prof. Tjetjep Rohendi Rohidi, MA
  • Penguji Internal : Prof. Dr. Mahmud Tang, MA
  • Penguji Internal : Prof. Ilmi Idrus, Ph.D
  • Penguji Internal : Dr. Tasrifin Tahara, M.Si

Muh Faisal adalah dosen unismuh sekaligus kritikus seni yang banyak mengasosiasikan pemikirannya melalui gerakan dan pengkajian kebudayaan. Selain itu, beliau juga adalah seorangpeneliti dan penulis lepas kajian budaya di beberapa media massa lokal dan nasional.

Geliat penelitian yang mengangkat politik identitas seniman kontemporer yang dilakukan oleh Muh Faisal selama tiga tahun, menghantarkannya pada ujian terbuka promosi doktoral bidang antropologi dengan kajian seni.

Berangkat dari pengalaman dan keterlibatan manusia dalam merespon budaya visual secara diakronis, maka sejarah pengetahuan seni rupa di Sulawesi Selatan menjadi bagian yang penting untuk diuraikan. Hilangnya pencatatan holistik tentang seni rupa di Sulawesi Selatan menjadikan ruang penelitian menjadi sangat dibutuhkan dalam menanjaki masa depan dunia seni di Sulawesi Selatan sebagai bagian dari wacana cultural yang dinamis.

Penelitian tersebut menguraikan praktik-praktik seni rupa yang di dalamnya terdapat pergolakan dan kontestasi antar perupa. Identitas tersebut ditandai dengan keanekaragaman penanda simbolik, sistem pengetahuan, pola kelembagaan, sistem ekonomi, dan keadaan geografis perupa/seniman di Sulawesi Selatan.

Pendekatan auto-etnografi yang diuraikannya melalui peristiwa sosial seni yang dihadapinya, menegaskan bagaimana ruang perhelatan ideologis dan simbolik menjadi fenomena kultural pada masyarakat Sulawesi Selatan yang didalamnya mengafirmasi identitas-identitas partikular yang melepaskan dirinya pada batas-batas seni. Dalam hal ini narasi pemikiran post-strukturalis seperti Bourdieau, Foucault, J. Baudrilland, Lyotard dan J. Lacan menjadi perbandingan atas teori-teori antropologi kontemporer yang digunakan.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kontestasi antar perupa ditunjukkan melalui pergolakan dua narasi kultural; yaitu tradisi seni rupa modern dan penganut wacana senirupa post-modern. Seni rupa modern yang ditunjukkan sejak tahun 1950-an di Makassar dengan kehadiran lembaga-organisasi seni termasuk masuknya persagi pada tahun tersebut.

Pada seni rupa modern mengisyaratkan perjalanan praktik seni rupa yang cenderung mimetik-naturalisme. Di dalamnya dikonstruk melalui paraktik artistik formalism yang cenderung berorientasi komersial. Perihal tersebut menciptakan pergolakan setelah wacana seni rupa post modern hadir terutama pada akhir tahun 1990-an sampai saat sekarang.

Wacana seni rupa modern tidak hanya dihadirkan melalui percepatan teknologi-informasi. Tetapi wacana tersebut juga banyak dibawa oleh perupa (seniman) Makassar yang telah melakukan proses diaspora pengetahuan di-pada lembaga dan institusi-institusi seni di luar Sulawesi.

Pengkajian maupun penciptaan karya seni post modern cenderung mengangkat literasi sebagai dasar pijakan dalam berkarya seni rupa. Bentuk karya seni ini bersifat heterogen dan menghargai perjalanan kultural manusia sebagai pengalaman estetik yang dapat dikonkritkan melalui karya seni. Kontestasi praktik seni modern dan wacana postmodern menjadi ruang perhelatan ideologis yang ditampilkan melalui wacana sosial seni, proses penciptaan, pola penyajian.

Pada posisi ini, maka pengetahuan ideologis perupa sangat berkaitan erat dengan pengetahuan dan kemampuan simbolik yang diciptakannya melalui karya seni. Kontestasi antar perupa juga ditunjukkan melalui keadaan dan politik ekonomi perupa yang mempengaruhi orientasi penciptaan karya seni.

Identitas perupa diklasifikasikan berdasarkan;

  1. Identitas kesenian individu sebagai ciri khas sejak lahir atau dibentuk berdasarkan sejarah hidup,
  2. Identitas kesenian kelompok sebagai pengakuan terhadap gagasan kelompok, dan
  3. Identitas kesenian Nasional sebagai identitas kebudayaan yang mengikat. Selanjutnya karakteristik seni rupa kontemporer di Makassar ditandai dengan perkembangan industri dan lembaga-lembaga seni yang dihadirkan berdasarkan proses penyebaran nilai (difusi).

Dalam merespon perubahan seni rupa kontemporer; maka terdapat pergolakan, kompetisi, dan kontestasi dalam menghadirkan identitas-identitas seni yang berbasis kultural-industrial. Konsep-konsep itu dipraktikkan berdasarkan kontestasi perupa dalam menghadirkan wacana seni rupa kontemporer di Makassar sebagai penanda runtuhnya rezim estetik lama dan hadirnya rezim estetik baru.

Selanjutnya kontestasi antar perupa dipengaruhi oleh sistem relasi kapital yang berjalan secara simultan dalam membentuk sistem budaya kesenian secara dinamis. Pameran seni rupa atau gelar karya seni adalah sebuah arena pertemuan dan persentuhan kekuatan kapital seniman dalam merespon kebudayaan. Dari sinilah proses perubahan simbolik bergerak secara gradual, sejalan dengan perubahan sosial masyarakat yang dinamis.

Oleh karena itu, perwajahan, bentuk, ekspresi, dan gagasan seni adalah sebuah sistem representasi atas setiap peristiwa kebudayaan yang terjadi disekitarnya. Sehingga untuk mengetahui sistem nilai kebudayaan yang mewarnai kehidupan masyarakat dapat dilihat dari sistem visual yang di ekspresikan dan ditampilkan secara simbolik.Dari sistem simbolik visual tersebut nilai kebudayaan dapat di tafsirkan, dibaca, dan diperiksa berdasarkan pendekatan antropologi.

Dengan kondisi seperti itu, perkembangan ikhwal pemikiran, kreatifitas, dan gagasan-gagasan baru manusia -kini menjadikan budaya visual sebagai situasi kebudayaan kontemporer yang tak dapat dielakkan, termasuk di Kota Makassar. Meningkatnya pemenuhan hasrat, selera, hiburan, permainan, dan produk komoditas mengafirmasi manusia kontemporer yang sedang berada ditengah gempuran budaya visual.

Dari fenomena inilah, pergolakan identitas perupa kemudian bergerak seiring dengan perubahan kultural (pengetahuan, ekonomi dan sistem simbolik) yang terus bekerja menemukan identitas-identitas partikular.

Makassar 28 November 2018