Music Studies

Mengapa Mesti Musik…???

Musik sebagai media mentransmisikan ide gagasan, menjadi salah satu cabang seni yang popular dan mempuyai pengaruh langsung terhadap diri seseorang. Oleh karenanya musik itu berpengaruh secara baik atau buruk tetap saja mengambil peranan dalam kehidupan masyarakat. Selain itu musik merupakan aktifitas artistik yang didesain oleh para ahlinya dalam mengatur bunyi dan elemem serta unsur yang lain dan memberikan efek emosional……

inesia.Art – Mungkin ada banyak orang yang bertanya menyoal musik sebagai seni yang dominan mengambil peranan dalam kehidupan manusia. Musik ada dimana-mana dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, musik dapat didengar, dinikmati oleh siapa saja, tak kenal siapapun baik itu dari masyarakat golongan biasa, golongan luar biasa, suku, agama dan lainnya. Suka atau tidak suka, musik merupakan sebagai rangkaian bunyi beserta unsur dan elemen lainnya yang dibentuk sedemikian rupa, serta dapat berpengaruh langsung terhadap seseorang yang mendengarkannya. Musik adalah cabang seni yang memiliki dimensi dan keistimewaan yang berbeda dengan lainnya.

Sejenak kita kembali menengok musik di jaman Yunani kuno. Meskipun perkembangan musik pada saat itu, secara teoritis belum mengalami kemajuan secara signifikan, akan tetapi jaman tersebut menjadi bahan atau inspirasi untuk para seniman abad pertengahan dalam upaya pengembangan musik, dan belajar melalui risalah-risalah sebagai dasar dalam teori musik budaya islam dan teori musik barat abad pertengahan. Musik di jaman Yunani kuno dianggap sebagai ciptaan dewa-dewi atau setengah dewa seperti Apollo, Amphion, dan Orpheus. Ada anggapan bahwa musik mempunyai kekuasaan ajaib yang dapat menyempurnakan tubuh dan jiwa manusia serta membuat semacam mujizat dalam dunia alamiah (McNeill;1998).

Menyoal tentang teori musik, lebih lanjut seperti penjelasan McNeill, musik Yunani kuno pada dasarnya berpijak pada teori musik Islam dan teori musik Erofa Barat selama abad pertengahan. Sehingga dalam prosesnya, dibagi menjadi dua yaitu; ide-ide tentang sifat musik; peranannya di Alam semesta, efek dan kegunaannya dalam masyarakat dan yang kedua adalah penjelasan tentang interval, modus dan komposisi musik. Kecenderungan musik pada saat itu memiliki peranan penting dalam masyarakat sebagai suatu phenomena yang berhubungan dengan emosi dan moralitas. Plato dan Aristoteles menjelaskan tentang ethos atau sifat moral dan efek yang ditimbulkan oleh musik, musik menirukan dan menggambarkan keadaan jiwa manusia. Dengan demikian, seseorang ketika mendengarkan musik, maka emosinya akan dipengaruhi serupa dengan sifat musik yang didengarkan.

Dengan demikian, pandangan tersebut sampai saat ini masih relevan dimana masyarakat saat ini kuat dipengaruhi dengan musik “pop” yang kecenderungannya membawa efek atau konten hiburan dan sifat menggemparkan, luapan kegembiraan maupun cenderung berperilaku pragmatis. Lalu bagaimana dengan mendengar musik klasik,apakah kecenderungan emosi kita juga akan kuno atau dalam bentuk lain?

Contoh lain adalah bagi penikmat Jazz, sebagaimana kita tahu bahwa music Jazz dikenal dengan style improvisasi tidak “terikat” cenderung ingin bebas dan melepaskan diri dari gaya musik “klasik”. J. F. Sweede mengatakan bahwa dalam hal ini musik klasik dianggap sebagai musik orang kulit putih dan musik Jazz merupakan musik dari kulit hitam. Jika demikian, seseorang yang terlibat dalam musik tertentu, akan menuntut sutau nilai, baik itu nilai kebebasan ataupun nilai ketetapan yang berhubungan pada suatu moralitas. Berdasarkan hal tersebut,musik Jazz merupakan media dalam mendobrak konsep “kemapanan” musik atau bahkan situasi sosial dalam suatu kalangan tertentu. Melalui musik Jazz, ada semacam konsep tatanan baru dalam lingkungan musikal dan sosial budaya di Amerika saatitu.

Disamping itu, Kenyataan saat ini juga, berbagai jenis musik ada di sekeliling kita, baikitu musik yang memberikan efek “tidak baik maupun yang baik”. Musik saat ini seolah-olah hadir ditengah masyarakat sebagai sarana yang digunakan oleh oknum tertentu dengan maksud membentuk mentalitas pop, pragmatis dan menciptakan suatu kesan kebebasan dengan dalih kebebasan dalam berekspresi. Musik semacam yang dimaksud adalah musik popular dengan berbagai macam genre dengan konten syair seronok, fulgar, dan menggelikan telinga. Ditambah dengan kemiskinan gaya musik dan pengolahan elemen musikalnya yang terkesan statis.

Musik sebagaimana dalam penjelasan McNeill membagi dua jenis kategori musik, ada musik dengan kategori Apollo dan Dionisya. Musik Apollo dikategorikan sebagai jenis musik yang kecenderungannya pada rasa ketenangan dan mensuplay dorongan spiritual, sedangkan musik Dionisya dianggap lebih punya kecenderungan membangkitkan suatu sifat semangat, kegemparan dan sifat-sifat lain yang dianggap kurang baik.

Olehnya itu, Plato dan Aristoteles berpendapat bahwa beberapa jenis musik tertentu harus dikontrol demi kebaikan masyarakat dan kesenian, pendidikan tanpa peraturan akan menghasilkan orang yang tidak bermoral dan masyarakat yang bersifat anarkis. Di sisi lain, manusia dengan kreatifitas yang dimilikinya, akan terus melakukan suatu upaya-upaya dengan segala macam bentuk eksplorasi untuk meniru atau menemukan suatu gagasan-gagasan menarik dalam hubungannya dengan musik. Dalam hal ini akan menjadi menarik bila suatu eksplorasi berbagai macam ide gagasan yang diusung disertai pula dengan moral dan etika yang baik. Sebab musik memberikan suatu efek yang langsung diterima.  

Sebagai salah satu cabang seni yang sangat “popouler” dalam masyarakat, musik menempati posisi paling utama dalam masyarakat secara sadar ataupun tidak. Musik selalu menempati segala aktifitas cabang seni lainnya seperti tari, seni rupa,pertelevisian, teater dan sebagainya. Musik sebagaimana kutipan dalam Bambang Sugiharto menyatakan bahwa, musik merupakan hal yang paling utama dalam kehidupan manusia dibandingkan bentuk budaya lainnya yang memasuki segala medan aktifitas manusia, bahkan musik menyelinap membentuk bahkan mengendalikan perilaku manusia.

Kompleksitas dan keberagaman musik juga merupakan hal yang mendasar dalam memperoleh khazanah pemahaman musik sebagai gagasan estetik. Musik acap kali dianggap ‘ekspresi emosi’, dan dampaknya pun sering dilihat sebagai dampak emosional. Berbeda halnya dengan suatu suku tertentu misalnya suku Navajo dampak penting dari musik tidak terletak pada emosionalnya, akan tetapi dampak medisinalnya-musik itu bagus apabila digunakan dalam menyembuhkan orang-orang sakit (Sugiharto;2013)

Fungsi musik juga dapat digunakan sebagai media terapi dengan menempatkan musik sebagai sarana terapi yang bersifat nonverbal. Musik sebagai sarana dalam memberikan terapi dengan cara memperdengarkan sebuah lagu tertentu kemudian membiarkan pasien menjelajah dengan ingatan-ingatan atau membayangkan hal-hal yang-baik bersifat senang, sedih, bahkan menyeramkan. Hal ini juga dilakukan berdasarkan ketentuan seperti terapi pasien berdasarkan oleh nilai-nilai individual,falsafah yang dianut, tatanan klinis, pendidikan dan latar belakang budayanya (Djohan;2006).

Selain daripada itu, musik juga menjadi salah satu sarana dalam pengembangan di bidang pendidikan yan mengacu pada bagaimana tinjauan sejarah musik, teori musik,estetika, musik dan politik, psikologi musik, sosiologi musik dan lainnya, yang secara keseluruhan berinteraksi dalam masyarakat sebagai sarana atau media yang di dalamnya terdapat suatu maksud dan tujuan tertentu (Scott/Samson;2009). Bahkan musik menjadi bahan paling digemari ilmuwan, seniman maupun budayawan untuk melakukan suatu ekslorasi dalam hal riset tentang musik dalam masyarakat daerah tertentu. Contohnya saja bisa kita melihat bagaimana perkembangan tradisional gamelan Jawa, Bali dan kesenian tradisional Paganrang yang ada di Makassar.

Kemudian jika kita melihat dalam lingkungan kesenian terutama musik di daerah kitasendiri, berdasarkan pengamatan yang masih sempit-karena masih minimnya seniman musik yang membuat suatu karya musik secara konteks global, terutama di Makassar, baik itu musisi-musisi band (pop) maupun seniman tradisi yang sampai saat ini berusaha mengambil peran sebagai aktor/pelaku panggung popular dikalangan masyarakat pada umumnya.

Bisa dilihat pelaku “tradisi” kebanyakan cari job musikdi acara-acara seperti pengantin, sunatan dan hajatan lain, dengan bayaran yang relatif memuaskan. Dengan adanya panggung popular itu, beberapa kelompok musik-pun lahir dan berkompetisi dalam merebut panggung itu. Hal ini bukan cuma karena utamanya faktor ekonomi, akan tetapi bagaimana musik dijadikan media dalam menciptakan situasi seperti itu.  

Musik mempunyai peran dan fungsi yang berbeda-beda dalam masyarakat dan di belahan bumi secara luas. Musik itu, baik dia berpengaruh atau berfungsi secara baik maupun buruk, akan tetapi tetap saja berperan sebagai suatu seni yang dapat menjadi media yang mempengaruhi diri seseorang bahkan berpengaruh dan dapat merubah pandangan dunia demikian dikatakan Bono (salah sau personel Band U2)dalam kutipan Bambang Sugiharto.

Makassar, 7 Desember 2018