Etnomusichology

Problematika Identitas Suku Bugis Dilihat dari Budaya Kesenian “Genrang”

Penulis : Rahmat Haruna


Praktek budaya dan seni kadang-kadang membuat kita bingung pada soalan lakon yang elementer menjadi siapa sebagai khas atau identitas kebentukan suatu seni tertentu. Tapi proses pertautan dan sosialisasi mempertemukan satu dengan yang lainnya……tapi bagaimanapun juga id chard itu juga penting sebagai warna dalam proses kehidupan yang lebih ramai dalam membentuk budaya dan praktek kebudayaan baru

inesia.Art – Ketika membicarakan Sulawesi Selatan, secara umum orang mengetahui bahwa mayoritas penduduknya berasal dari suku Bugis, Makassar, Massenrempulu dan Toraja. Pada hal, selain tiga suku itu, terdapat suku-suku lain seperi Kajang, To Balo, To Garibo dan beberapa suku lainnya yang semuanya menjadi satu kesatuan membentuk Sulawesi Selatan. Namun, dalam melakonkan kebudayaannya, sentuhan antar budaya tersebut tidak dapat dihindari. Oleh karenanya, tulisan ini menunjukkan persentuhan antara dua budaya saja, yaitu Bugis dan Makassar.  

Seperti yang dikatakan Dieter Mack dalam pandangannya bahwa, pertemuan antar dua budaya atau(dua suku) adalah sesuatu hal yang terjadi secara alami. Hal ini dapat dibuktikan melalui peristiwa sejarah umat manusia yang telah berlangsung secara terus-menerus.

Dalam pertemuan budaya tersebut, selama tingkat peradaban tidak sama, bisa ditafsirkan pertemuannya kurang alami (kalau untuk sementara alasan-alasan petemuan diabaikan, mau tidak mau kebanyakanpertemuan itu berdasarkan pada persoalan kekuasaan, walaupun ada berbagai ahli antropolog seperti Stanley Diamond yang mengatakan bahwa aspek kekuasaan baru timbul dengan tahap peradaban tertentu saja).

Jika kita menarik soalan ini dalam dunia pendidikan, bisa jadi bahwa identitas budaya suku Bugis sedang mengalami suatu persoalan yang rumit bahkan mungkin masalah besar. Entah sadar atau tidak, identitas kebudayaan Bugis saat ini, jika dilihat dari salah satu aspek pembelajaran instrumen gendrang (baca: gendang), telah mengalami pergeseran identitas.

Fakta yang ada dilapangan, menunjukkan tidak  ditemukan lagi pembelajaran gendrang Bugis, bahkan pada dasarnya, Instrumen musik beserta teknik permainan yang digunakan sebagai media pembelajaran adalah instrumen khas suku lain, yaitu Makassar.

Di wilayah budaya suku Makassar, ganrang (baca: gendang) telah dan menjadi hal utama dalam pembelajaran pada aktifitas pendidikan formal. Alat musik ini banyak digunakan dan dipelajari pada tingkatan Sekolah MenengahPertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan di tingkatan Universitas.

Pada tingkatan pendidikan tinggi universitas, terjadilah persentuhan antara orang Bugis dengan ganrang Makassar. Sebab utamanya adalah orang Bugis datang ke Makassar dan menempuh pendidikan seni di tingkatan Universitas dan dipengaruhi pada intensitas pola tabuhan dan suara ganrang sekaligus menjadi materi utama dalam pembelajaran seni tradisional diUniveraitas.

Melalui proses tersebut, orang Bugis yang telah menempuh pendidikan seni pada tingkatan Universitas di Makassar, kembali ke daerah asalnya masing-masing, dan mrnjadi tenaga pengajar di instansi atau sekolah-sekolah akan mengajarkan seni dan sebagai salah satu materinya adalah pengajaran seni tradisional yang telah didapatkan di tingkat strata satu dahulu, dan mengajarkan gendrang.

Dari proses tersebut, pengajaran seni tradisional yang salah satunya adalah genrang, pada kenyataanya, adalah proses pengajaran gendrang-nya adalah jenis kesenian tradisional ganrang Makassar, berupa pola tabuhan dan segala bentuk tehniknya. Hal ini terjadi hampir di seluruh wilayah kultural Bugis. Sehingga, dari peristiwa itu dapat dapat disimpulkan bahwa, identitas Bugis dalam perpektif seni tradisional genrang-nya menjadi kabur. Padahal kita tahu bahwa seni tradisional suku Bugis dalam hal  gendrangBugis itu juga ada.

Bahkan setiap suku di daerah-daerah diIndonesia umumnya memiliki jenis kesenian tertentu. Namun dalam hal ini,praktek kesenian tradisional gendrang  Bugis kurang mendapat tempat sebagai bahan pengajaran dalam tingkat pendidikan formal.

Di ruang lingkup yang lebih luas lagi, seperti pada acara ritual dan seni pertunjukan yang mengambil tema khas suku Bugis, instrumen musik yang digunakan pun adalah instrumen ganrang Makassar.

Sampai pada titik inipun, genrang Bugis nyaris tidak dapat ditemukan lagi dalam kegiatan masyarakat Bugis maupun di ruang pendidikan dan masyarakat secara umum, hanya ganrang Makassar yang tampak dominan dalam penggunaannya.

Secara identitas, sebenarnya suku Bugis mengalami masalah pergeseran identitas, jika dilihat dari praktek kesenian gendangnya. Dari soal itulah, dapat disimpulkan bahwa bagaimana  identitas ke-Bugisan saat ini.

Saya kira perlu dilihat lebih jauh lagi bagaimana hal-hal seperti itu terjadi dan dapat menjadi semacam praktek kebudayaan sintetis atau dominasi kultural melalui seni tradisional tersebut.    

Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa pengembangan dan elaborasi seni tradisi boleh saja dilakukan. Tetapi, agar seni tradisi gendrang Bugis masih bisa dikatakan mengacu dengan gaya serta nafas tradisi, maka jiwa tradisi harus mengedepankan nilai suku ke-Bugisan.

Dalam wilayah pendidikan, praktek pembelajaran perlu dibarengi dengan penonjolan “local genius” ataukearifan lokal identitas khas Suku Bugis.