Social & Culture

Bincang Literasi: Upaya konservasi dan Pengembangan Budaya Lokal

Salah satu upaya yang mesti dilakukan adalah bergerak aktif dalam menciptakan peluang untuk pengembangan diri dan kolektif. Salah satu mungkin yang paling dekat dan efektif adalah berbagi melalui bincang bersama dan berbuat secara nyata…….

inesia.Art – Senin 10 November2018 sebuah acara semacam ajang silaturrahim/ngumpul bersama dengan beberapa tokoh sastra, komunitas belajar, mahasiswa dan komunitas lainnya dalam tajuk obrolan “Literasi danPentas Puisi Nge-Rock #2”.

Pada kesempatan kali ini, acara di adakan di kafe 52 Jl. Tun Abd Razak kab. Gowa dengan beberapa item acara dan pembicara seperti, ada seminar Trainer Pendidikan Karakter yang dibawakan oleh Siska Yhudistira Massardi, workshop Jurnalistik oleh Yhudistira Massardi ada juga ketua yayasan pemertahanan budaya lokal Sul-Sel Ir. Abd. Razak Wawo, Aslan Abidin yang merupakan penyair dan akademisi, HAS musisi, musisi dari Solo Gema Isyak & Gandhi Asta (Uniloka).

Pada kesempatan pertama, Ibu Siska Yhudistira Massardi dengan materi “Trainer Pendidikan Karakter”. Dalam materi tersebut, beliau banyak memaparkan soal pengaruh atau faktor genetika dalam pertumbuhan dan perkembangan karakter anak menuju suatu pencapaian budaya dan bangsa yang jauh lebih baik. Beliau mengatakan bahwa dalam memilih jodoh mesti harus mempertimbangkan bobot, bebet dan bibitnya.

Persoalan tersebut menurut ibu Siska merupakan hal yang utama yang harus diperhatikan sebab memilih jodoh berarti menempatkan sisi visi dan misi kehidupan yang lebih baik. Keluarga adalah kelompok kecil yang dibangun bersama dengan tujuan dan harapan yang lebih baik. Anak adalah aset kita dunia akhirat, maka dari itu pendidikan itu penting yang dimulai dari anak usia dalam kandungan sampai sekolah menengah pertama.

Terkadang sebuah bangunan rumah tangga hancur karena kurang dipahaminya suatu visi keluarga dan akhirnya kualitas dan aktifitas rumah tangga sering mengalami suatu masalah karena tidak menemukan suatu cara penyelesaian masalah (problemsolving) yang baik dan tepat.

Maka sebagai generasi muda, perlu memikirkan lebih awal bagaimana memilih pasangan, bergaul dengan siapa, menciptakan lingkungan yang sehat, kesemuanya itu terangkum dalam memilih calon pasangan hidup yang sehat jasmani dan rohani. Dalam arti bahwa seorang wanita tidak hanya dipandang karena dia cantik, akan tetapi lihatlah sebagaimana dia berperilaku yang baik, sopan santunnya, agamanya dan visi hidupnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hal-hal seperti tersebut kadang-kadang terabaikan atau bahkan tak perduli soal bagaimana memilih hal yang baik. Tapi dalam hal apapun semuanya harus dimulai dengan perencanaan disertai visi dan misi yang jelas sebagaimana target yang akan dicapai.

Samahalnya ketika dalam hal penyampaian ide gagasan berupa opini khusus maupun umum, mesti disampaikan dengan cara, meskipun berbeda dalam setiap cara orang dalam penyampaiannya, tetapi kemudian struktur dan budaya menulis mesti lebih sering dilakukan. Demikian halnya pada sesi kedua dengan materi yang diberikan oleh bapak Yhudistira dengan memberikan workshop jurnalistik.

Dalam materinya, beliau menyatakan bahwa menulis itu mudah, langkah-langkahnya adalah memikirkan apa yang menjadi topik menarik. Kemudian itu, merangkai huruf, kata,kalimat dan rangkaian lain terutama membuat suatu pernyataan, korelasi kalimat disertai dengan konflik maupun kesimpulan kecil di dalamnya.

Kemudian para peserta diskusi diminta untuk menuliskan apa saja yang dia ingin tulis dengan memberikan sisipan berupa metafor-metafor yang bisa memperindah dan bermakna dalam setiap kalimat yang dibangun.

Seperti dalam pernyataan Yhudistira bahwa, kegiatan ini perlu terus dilakukan agar supaya apa yang dicita-citakan bersama dapat terwujud. Sebagaimana pengamatan beliau bahwa saat ini, di era millenial generasi saat ini cenderung di serbu dengan media sosial yang kontennya tidak terbatas pada hal-hal yang mampu merasuki kreatifitas dan kualitas berfikir.

Melalui kegiatan tersebut, Yhudistira berupaya membangkitkan dan mengaktifkan sikap dan tindakan kreatif maupun kerja keras dalam membangun karakter sebagai manusia yang terdidik. Beliau juga mencanamkan upaya konservasi dan pengembangan budaya terutama budaya dan kajian literasi, terutama di kabupaten Gowa.

Samahalnya yang dikatakan oleh bapak Ir. Abdul Razak Wawo bahwa, anak muda sebagai generasi pelanjut adalah pilar dalam menjaga dan membangun bangsa dan budaya yang lebih baik.

Kemudian pada kesempatan itu Aslan Abidin berbicara soal bagaimana sebuah rangkaian kata adalah sebenarnya adalah daur ulang, dalam arti bahwa kata-kata itu adalah proses pengulangan secara terus-menerus dan menciptakan dan membentuk suatu makna yang berbeda dalam setiap peristiwa yang dilukiskan.

Jadi, kegiatan dan kajian literasi seperti yang dilakukan saat itu merupakan hal yang positif, karena hal seperti ini sudah langka. Berbeda halnya saat ketika dijaman beliau, dimana saat itu kajian-kajian literasi dan keaktifan dalam membuat suatu karya tulis berupa puisi, cerpen maupun yang lainnya sangat berbeda dengan sekarang.

Karena keaktifan para sastrawan pada era itu, melahirkan banyak sastrawan maupun penyair berbakat dan hebat-hebat.

Saat ini, saat dimana perkembangan teknologi yang semakin canggih, akses dalam memperoleh informasipun semakin mudah dan terasa dekat. Pada saat yang bersamaan muncullah orang pintar baru yang secara diam-diam belajar dan terus belajar dan mengeksplore apa saja yang ada di sekelilingnya, demikian Aslan Abidin menyatakan pandangannya.

Disamping itu, ada musisi dari Solo (Surakarta) yaitu Gema Isyak dan  Gandi Asta (Uniloka). Musisi ini hadir dalam membawakan bentuk musikalisasi puisi. Menurut Boby (Kedai Buku Jeni) yang merupakan salah satu penggagas acara tersebut mengatakan bahwa “sebenarnya event ini dilaksanakan sebagai bentuk upaya dalam melebarkan sayap dan merambah sampai didaerah Gowa, dalam rangka mengajak masyarakat atau rekan-rekan para muda-mudi ikut serta dalam membangun mentalitas pemuda yang mempunyai wawasan yang luas”

Perlu diketahui bahwa dalam meningkatkan mutu dalam pengembangan wawasan salahsatunya adalah melakukan suatu aktifitas berupa dialog atau sharing pendapat menyoal bagaimana pergerakan dan pengembangan terkhusus budaya kita.

Dalam melakukan syiar bapak Yhudistira menularkan aktifitasnya melalui sharing, ditambahkan Boby bahwa “beliau (Yhudistira dalam syiarnya menularkan aktifitas bincang literasi melalui bagi-bagi buku dan menggarap beberapa puisinya dalam bentuk musikalisasi puisi dengan menggandeng musisi dari Solo untuk kemudian dipentaskan”. Demikian hal seperti ini dapat terus berkelanjutan dan dapat bermanfaat dengan baik dalam masyarakat kita.

Makassar 11 Desember 2018