Social & Culture

Seksinya Indonesia di Mata Investor Asing

Kalau bicara soal investor pasti kita terfokus pada soal pasar ekonomi global dalam sektor pertambangan sumber dayaalam yang dikelola oleh perusahaan Corporation. Sangat jarang sistem investasi dibidang seni dan budaya diangkat sebagai suatu isu yang dapat dijadikan referensi suatu pergerakan dunia luar. Bukannya konservatif dana primordialakan tetapi keragaman seni dan budaya kita adalah aset untuk perkembangan bangsa yang berkarakter dan  jauh lebih maju dan mapan. Kita bisa lebih menyadari akan pentingnya suatu cara dalam mengelola aset yang ada…..

inesia.Art – Indonesia adalah salah satu negara yang paling seksi di mata dunia dengan sumber kekayaan alam dan seni budaya yang melimpah. Terdapat sekitar 17.000 pulau dan secara logis di dalamnya terdapat bahasa, seni, budaya yang ada di Indonesia di samping dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya yang berbeda-beda, ada berupa tambang minyak, batu bara, nikel, emas, biji besi maupun rempah-rempah dan sebagainya. 

Selain itu, keragaman seni budaya juga menjadi salah satu khas dan aset kita sebagai negara yang berbudaya dan punya sejarah yang panjang dan unik melalui perkembangankerajaan-kerajaan dan peninggalannya yang bersifat tangible dan intangible, hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan budaya masyarakat serta situs bangunanbersejarah yang terdapat di seluruh pelosok nusantara dengan keunikan maupun keragamannya.

Melalui kekayaan sumber daya alam tersebut, tidak sedikit perusahaan asing tergoda dengan hal tersebut. Pada sekitar tahun 1596, saat itu orang-orang Belanda datang ke Indonesia dibawah pimpinan oleh Cornlies De Houtman dengan maksud dan tujuan menjalin perdagangan berupa rempah-rempah kemudian dibawah, diolah dan dijual kembali di negaranya. Bahkan kuat disinyalir, kedatangan orang-orang Belanda di bumi Indonesia merupakan skema politik tingkat tinggi, yang melibatkan orang-orang dan sekte dalam program penguasaan dunia.

Selain daripada itu, penguasaan perdagangan dan sistem penanaman modal tidak hanya berlaku pada rempah-rempah atau hasil bumi saja. Sistem penanaman modal atau investasi juga berlaku dalam segala aspek, baik itu dari segi aspek bahasamaupun budaya dan seni.

Kita tahubahwa di era tahun 80-90-an, ejaan bahasa Indonesia sangat dekat dengan pengejaan Belanda, hal ini dilakukan sebagai pendekatan dalam memahami poin-poin proklamasi kemerdekaan republik Indonesia agar mudah mereka pahami,dan pada beberapa waktu, Ejaan itulah yang berlaku dan digunakan sebagai bahasa Indonesia sekitar tahun 90 – an.

Kemudian, ditahun sejak pemerintahan presiden Jokowi, isu perusahaan raksasa asing PT.Freeport dengan diakuisisi kembali pengelolaannya 51 % oleh pemerintah Indonesia menjadi perbincangan hangat di Indonesia bahkan dunia, melalui acara khusus di salah satu Channel TV. Tentu saja langkah pemerintah itu membawa angin segar buat keadaan Indonesia ke depan. 

Tidak hanya itu, bahkan isu maraknya investor menanamkan modalnya di Indonesia semakin merebak dan menjadi kabar yang mengalami pro dan kontra, baik di dalam masyarakat maupun dalam kubu pemerintah sendiri.

Bisa dikatakan bahwa hal itu juga berlaku dalam praktek seni dan budaya kita di Indonesia. Mungkin pada suatu titik tertentu, hal ini tidak disadari tetapi juga mungkin disadari akan tetapi cenderung dibiarkan saja, mungkin dengan alasan bahwa sistem investasi asing dibidang seni dan budaya kita oleh orang asing adalah hal yang positif.

Sekali lagi bahwa Indonesia adalah ibarat gadis desa yang lugu dan mempunyai paras yang menawan dengan keindahan tubuh bak harum semerbak. Pesona yang dimiliki Indonesia cukup menarik perhatian lelaki hidung belang dengan berbagai macam iming-iming yang ditawarkan.

Investasi modal usaha dibidang seni dan budaya marak terjadi dan menjadi isu menarik, terlebih pada keberagaman dan keunikan seni dan budaya mulai dari Sabang sampai Merauke. Mungkin terlihat dan terdengar lucu dan agak kurang nyaman disimak banyak orang mengenai hal ini, tetapi hemat saya hal ini perlu disadari agar tidak menjadi penonton selama-lamanya dan akan berdampak pada anak cucu kita kelak, ketika mereka merasa tamu di rumah sendiri.

Mungkin banyak contoh nyata menyoal apa yang saya maksud. Mungkin kita bisa melihat ilmuwan Anderson Sutton melalui karyanya yang berjudul Calling Back The Spirit-diterjemahkan dan terbitkan penerbit lokal menjadi (Pakkuru Sumange), ada juga Christian Pelras dalam Bukunya The Bugis –diterjemahkan menjadi(Manusia Bugis), mereka mempersiapkan dan meneliti bertahun-tahun sehingga menjadi sebuah buku yang dikonsumsi umum dan khususnya masyarakat Sulawesi-selatan

Kemudian ada Jaaf Kunst, dalam karyanya Hindu-Javanese Musical Instrument.  Beliau mengelola dan menjamah seni dan budaya Indonesia, melihat dan merumuskan tentang bagaimana sistem seni dan kebudayaan khususnya bentuk dan relasinya seni tradisional terhadap masyarakat pendukungnya. Melalui proses tersebut, akhirnya menetaskan suatu karya dengan perumusannya menjadi sebuah narasi dalam bidang Etnomusikologi.

Mungkin juga hal tersebut perlu disyukuri atas perhatian beliau dan kini, hasil karyanya kita juga telah jadikan sebagai suatu kitab dan pandangan yang sahih. Ibaratnya sumber bahan mentahnya dari dalam negeri, diolah di luar dan masuk menjadi“komoditi pasar” dan dijadikan sebagai pedoman dalam perkembangan seni dan budaya secara berkelanjutan.

Selain itu, pada tahun 2004, melalui teater I La Galigo yang dipentaskan keliling dunia, Robert Wilson yang seorang sutradara yang berkebangsaan Amerika, memulai proyek tersebut dengan mengangkat sebuah naskah kuno dan konon merupakan naskah terpanjang di dunia yang ditulis oleh toAcca (cendikiawan) Colli Pujie. Naskah tersebut di angkat sebagai sebuah konsep pertunjukan teater dengan melibatkan para budayawan serta seniman tanah air Indonesia. 

Pertunjukan tersebut kemudian dipentaskan dibeberapa negara di dunia dengan membawa seniman dan budayawan Indonesia. Saya yakin bahwa deklarasi naskah terpanjang di duniaI La Galigo tidak hanya pada persoalan supaya dunia tahu akan hal itu, akan tetapi selain hal itu sebagai suatu peristiwa seni dan budaya, hal itu jugabisa dicurigai sebagai suatu peristiwa politik-membangun suatu relasi antarnegara, budaya, dan membangun peradaban seni budaya yang berbasis seni dan budaya tradisi yang bergerak di wilayah Asia. 

Kita juga bisa melihat Auralarchipelago yang dalam proyeknya membuat suatu perekaman dan pendokumentasian berbagai jenis kesenian dan budaya hampir diseluruh pelosok nusantara. Entahlah kerja secara detilnya saya tidak tahu persis, akan tetapi melalui akun instagramnya, mereka mengiming-imingi pelaku seni untuk tampil dipanggung kelas dunia yang megah. 

Saya kira masih banyak lagi contoh investor asing yang bekerja secara diam-diam di wilayah nusantara. Mereka mengerok secara terus-menerus bahkan untuk menggalibahan mentah itu, cukup mereka-para pelaku seni diundang dalam panggung di luar negeri untuk mementaskan jenis kesenian tradisi yang ada. Secara simbolis, seniman ini juga memperoleh keuntungan dengan predikat seniman yang sudah mentas di luar negeri dan mungkin jadi seniman disegani.

Mungkin ini hanya bisa dianggap sebagai suatu ceritera belaka dan tak berdampak apa-apa dengan kita. Tetapi perlu diingat bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang-putra daerah baik itu saat ini ataupun nanti, terutama dalam hal riset dibidang seni dan budaya, bisa jadi hanya mengais sisa-sisa peninggalan investor sebelumnya. Hal itu memang adalah suatu kenyataan, di samping juga kita tidak harus berdiam diri menatap mereka dengan gerakan-gerakannya. 

Demikian halnya upaya pemerintah dalam usaha pengembangan budaya dan pariwisata, bisa menggandeng orang-orang yang punya kafabilitas bidang bukan kafabilitas kuasa agar upaya konservasi dan pengembangan budaya dapat dikelola dengan baik dan benar.

Lebih jauh bahwa sumber daya manusia memang sangat dan perlu ditingkatkan dalam berbagai hal sehubungan dengan apa yang disebutkan sebelumnya. Perlu mengembangkan diri sebagai penanggung jawab dari aspek apa yang ingin dikelola secara baik dan profesional. Hal ini diperuntukkan dalam rangka menopang dan menjaga pelestarian, perkembangan dan pertumbuhan sumber daya alam dan sumber daya yang bersifat benda dan tak benda.

Makassar 13November 2018, 15;20 WITA