Social & Culture

Membingkai Semangat dalam Seni Pertunjukan

Penulis :  Haryudi. Rahman

Refleksì seni budaya melalui suatu bentuk atau program berkesenian tidak hanya sebagai bentuk konservasi, akan tetapi kegiatan ini seperti sebuah bentuk refleksi dalam upaya pengembangan seni budaya secara berkelanjutan……

inesia.Art – Sabtu 15 Desember 2018 masyarakat Desa Awo Kabupaten Bone menikmati suasana baru dengan pertunjukan yang digelar oleh Komunitas Seni Sullewatang (KSS). nampak masyarakat antusias mendukung event tersebut yang berlangsung mulai dari pukul 20.00- 23.00 WITA.  Masyarakat dalam menikmati pertunjukan tersebut, ada yang duduk dan ada yang berdiri karena kondisi jumlah kursi yang tidak cukup memadai. Di samping itu, beberapa masyarakat menggelar jajanan berupa kue dan sejenisnya, juga terlihat beberapa tokoh dan jajaran pemerintah Desa Awo serta para teman-teman talent yang ikut mendukung event tersebut.

Seperti tema yang di usung oleh KSS “Sumange Tealara” dalam artian teguh dalam keyakinan kukuh dalam kebersamaan. Prinsip Bugis ini mengajari manusia khususnya dalam lingkup Bugis, untuk tetap memiliki semangat dalam menghadapi tantangan. Semangat inilah yang dibingkai dan dimunculkan dalam sebuah pertunjukan yang diakhiri dengan Tudang Sipulung.   

Panggung dengan ukuran lebar kurang lebih enam meter, kedalamannya tiga meter dan tinggi 15 cm menjadi ruang interaksi antara penggiat seni dan penonton di lapangan samping kantor Desa Awo.

Desain panggung dengan background kain putih, isntalasi bambu yang membentuk segi empat, dalam masyarakat Bugis dikenal dengan ”sulapaq appa”. Sentuhan lighting di backround  mempertegas bentuk “sulapaq appa” secara visual.

Acara pada malam itu dibuka dengan tari “paduppa”. menariknya karena penari dan pemusiknya adalah anak-anak usia sekitar kelas 2 sampai dengan 5 sekolah dasar,dan mereka merupakan generasi baru di KSS yang paling muda. Tari paduppa merupakan tari kreasi dari Andi Nani Sapada dan merupakan tari populer dalam masyarakat Sulawesi Selatan.

Beberapa sambutan dari ketua panitia, ketua KSS dan ditutup oleh Kepala Desa Awo. MC (Master of Ceremony) membuka dengan,  menggunakan bahasa Bugis dan selipan humor plesetan ala Bugis di dalamnya. Tidak ketinggalan bapak Kepala Dinas Kebudayaan Bone secara tiba-tiba memasuki area penonton dan duduk bersama masyarakat setempat menyaksikan pertunjukan tersebut Beliau datang kemudian memberikan sambutan, dalam sambutannya bahwa “desa inilah yang pertama kali menghidupkan kesenian dengan mengemasnya dalam sebuah event”.

Kepala Dinas dalam harapannya, Kegiatan seperti ini menjadi diharapkan dan cukup dinantikan dan ada di setiap desa di Kabupaten Bone, tegasnya. Event-event seperti ini, kedepannya akan diagendakan setiap tahunnya. Sebagai informasi bahwa “Songkok Recca”/”Songkok To Bone” saat ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya intangible oleh Kemendikbud.

Pertunjukan berjalan, diawali dengan menampilkan beberapa repertoar yang sudah tersusun rapih pada rundown acara. Pertunjukan Rampak Gendang dari generasi baru KSS begitu memukau dengan atraksi-atraksi ritme yang cukup rapat. Dilanjutkan dengan tari kreasi dengan judul “parengngala” yang ide penciptaan koreonya diambil dari aktifitas petani mulai dari menanam hingga saat panen.

Kemudian pertunjukan Genrang Bajo oleh dedengkotnya boleh dikatakan maestronya genrang Bajo H.Nurdin, berkolaborasi dengan kawan-kawan dari KKS, Komunitas Saoraja Art disertai atraksi pencak silat atau “manca”.Salah satu yang banyak menyita perhatian penonton adalah “Genrang Bajo”. Diusianya tidak muda lagi, gerak tangan dan kelincahannya sangat memukau dengan gerakan ma “menca” nya.  Sorakan penonton menjadi penanda interaksi dan apresiasi terhadap pertunjukan yang aktraktif itu. Saya jadi ingat suatu pendapat dari Prof Soedarsono bahwa kesenian Indonesia memiliki ciri khasinteraktif, dimana penonton dan pemain saling berinterkasi, jadi siapa pun bisa terlibat secara langsung dalam pertunjukan itu.

Pertunjukan dilanjutkan dengan tari kreasi  empat etnis, kemudian dilanjutkan dengan penampilan simfoni kecapi dan berakhir dengan pertunjukan rampak genrang dari kolaborasi pemusik Bone. Lalu, semua pendukung acara diarahkan ke atas panggung untuk foto bersama.

Setelah semua rangkaian kegiatan pertunjukan selesai, dilanjutkan acara “tudang sipulung” bersama kawan-kawan penggiat seni Bone. Dalam suasana “tudang sipulung” terdapat beberapa hal yang dibicarakan kaitannya dengan seni. Dalam forum ini dibahas soal beberapa tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh penggiat seni khususnya di Kabupaten Bone. Lahirnya komunitas seni/budaya, tentunya akan jauh lebih baik tinggal menyamakan frekuensi,  menentukan arah untuk kedepannya. Dalam hal ini pemerintah sebagai fasilitator maupun seniman dan masyarakat perlu saling bersinergi.