Social & Culture

Bincang Prospek Film Dokumenter & Tantangan Global.

Salah satu kebaikan yang bisa kita nikmati sebagai makhluk sosial adalah berbagi sesuatu kepada orang lain. Sebagai makhluk sosial, interaksi tentu saja terjadi dalam setiap perjumpaan-perjumpaan sekaligus menciptakan ruang-ruang baru dan hal-hal baru yang dapat dipetik manfaatnya.

inesia.Art – Jumat kemarin, tanggal 21 November 2018 tepatnya d kampus PPD ISBI Sulawesi selatan Jl. Pampang Raya itu, diadakan seminar film yang bertajuk “Film Dokumenter ; Prospek dan Tantangan Global”. Pemateri terdiri dari Usman Affandi (Kompas), Tonny Trimarsanto (Rumah Dokumenter) dan sebagai Moderator adalah Damar Tri Afrianto, M. Ms.

Dalam seminar itu, para pemateri membahas tentang film dokumenter yang mengarahkan peserta pada konten film strategi dalam memproduksi film dokumenter dengan segala macam persoalannya. Sekaligus pemateri lainnya membahas soal konten atau muatan film dokumenter khususnya bahwa dokumenter itu sebenarnya sebagai sebuah sarana dalam pengarsipan peristiwa, sebab film dokumenter itu pada dasarnya memotret suatu kejadian yang sebenarnya terjadi. Hal ini juga relatif ditunjang berdasarkan tipe, aliran atau genre film dokumenter yang dilakoni. Seperti penjelasan pemateri (Tonny Trimarsanto) jenis film dokumenter itu sendiri terdiri dari film dokumenter partisipatori, observasi, kreatif dokumenter dan lain sebagainya.

Pada pemateri pertama Usman Affandi memaparkan bagaimana eksistensi film dokumenter dalam masyarakat yang sampai saat ini masih berjuang merebut simpati masyarakat secara luas. Dalam hal ini Usman melihat sisi sosial yang mengkwatirkan dalam kondisi saat ini, dimana masyarakat terlibat dalam kultur atau praktek budaya intoleran, apatis dan semacamnya. Seperti dalam ide gagasannya mengangkat sebuah fenomena toilet yang melibatkan kampus dan akademisi, dimana toilet sebagai sebuah simbol cerminan pendidikan yang dapat melahirkan suatu sikap yang baik, sehat dan terarah.

Sebagaimana juga dijelaskan bahwa film dokumenter itu punya suatu prospek yang bagus terlebih pada pangsa pasar di dunia Eropa dan Amerika dan hal ini adalah peluang bisnis yang menjanjikan. Kemudian dalam dialognya, Usman menjelaskan perlunya suatu riset dalam membuat suatu film dokumenter agar kontennya dapat menarik. Seperti yang dilakukannya di daerah Maros dan Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar, bahwa masyarakat sekitar bandara tersebut mengalami suatu ketidak nyamanan dan tekanan psikis akibat carut marut bunyi raungan pesawat yang dapat dan telah berdampak negatif dalam masyarakat sekitar bandara tersebut.

Pemateri kedua (Tonny Trimarsanto) menjelaskan bahwa film dokumenter khususnya di Indonesia itu mengalami suatu penyempitan produksi dikalangan seniman, hanya sekitar 5-10 % saja itupun dikelola oleh lembaga swadaya masyarakat ( LSM) dan 90 % dikelola oleh pemerintah sebagai media dalam mendokumentasikan segala aktifitas pemerintah dalam hal-bisa dilihat kembali di era orde baru, bahwa film dokumenter itu dibuat untuk melegitimasi atau upaya konsolidasi pemerintah dengan muatan sukses pembangunan misalnya, sukses pembangunan struktur dan infrastruktur, pertanian, perikanan, swasembada pangan,  dan lainnya.

Kemudian dalam hal film dokumenter yang paling mendasar adalah perlunya suatu riset dan data dalam setiap objek yang ingin dikelola dalam film. sebagaimana diketahui bahwa di era orde baru sekitar tahun 1998, LSM dan pemerintah adalah partner dalam pengelolaan dan produksi film dokumenter, karena dalam hal ini, LSM dan pemerintah sudah membuat suatu program kerja yang outputnya untuk informasi ke masyarakat tentang keberhasilan pembangunan yang digagas oleh pemerintah.

Untuk persebaran film dokumenter itu sendiri dilakukan secara terpusat dan di bawah kontrol pemerintah saat itu, baik melalui dinas maupun lembaga lain. Penyebaran film tersebut semuanya dilakukan di Jakarta kemudian disebar diseluruh daerah di Indonesia. Demikian kedua pemateri itu dalam pemaparannya, dan hemat saya bahwa film dokumenter itu menarik dan menjadi salah satu aktifitas seni yang bisa dikembangkan dalam aspek baik dalam aspek artistiknya dan muatannya ke dalam suatu kemasan yang lebih menarik.

Umumnya, dalam sebuah dialog seni, hal yang dibicarakan itu adalah soal konten seni-yang arahnya apa muatannya dalam menyikapi persoalan sosial masyarakat pada umumnya. dalam kesempatan lain, seni itu juga merupakan suatu aktifitas selain dari aktifitas sosial, juga merupakan aktifitas artistik. dalam hal ini kita tentunya bertanya bahwa ketika peletakan artistik itu ada, maka dilekatkan dimana. Tentu saja ketika dalam proses garapan film misalnya ada sebuah usaha  atau proses menuju pada suatu produk film dengan tingkat kreatifitas artistik yang berbeda.

Terlebih sebuah bincang-bincang seni itu dilakukan dalam ruang akademik dimana cara atau metode garapan dan struktur komposisi karya adalah hal mendasar yang mesti diperhatikan lebih dulu.

Mungkin dijaman sekarang ini, persoalan teknis tentang bagaimana membuat suatu produk seni dianggap sudah selesai. Atau mungkin persoalan teknis artistik sudah tidak jaman lagi untuk dibicarakan ketimbang konten produk seni.

Mungkin itu juga benar dalam arti bahwa seseorang dalam bidangnya bisa melakukan apa saja sesuka hatinya dan bebas melakukan sesuatu terlebih pada menyampaikan sesuatu dalam publik dengan apa dan cara apapun. Dalam hal ini juga tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang, terlebih pada seniman masing-masing punya cara yang berbeda dalam membuat struktur karya seni sebagai produk yang ditawarkan ke masyarakat. Sama halnya penjual kue, agar kuenya laku oleh para konsumen, pembuatnya mesti memikirkan cara meng-komposisi-kan bahan-bahan kue yang disediakan untuk membuat kue yang lezat.

Demikian halnya juga sebagai sebuah karya seni. Pada kesempatan seminar saat itu, pemateri sebagian besar memaparkan isi atau muatan karyanya, bukan berarti itu tidak penting akan tetapi perlu dipaparkan atau menyentuh wilayah cara membuat suatu struktur yang baik dalam mengemas suatu karya yang prospektif. Meskipun soal tehnis lebih efektif dalam kegiatan workshop tapi setidaknya nyenggol dikit atau banyak juga boleh, akan lebih membuka suatu ruang kreatifitas bagi peserta diskusi.

Barangkali salah satu tujuan film dokumenter itu dibuat adalah mendistribusikan atau mengarsipkan suatu peristiwa dalam bentuk visual audio (video), terlebih pada mengangkat suatu isu-isu sosial, ke dalam masyarakat. Selain itu, kemasan film dokumenter yang kian menarik akan menjadi prospek yang menjanjikan.

Menyoal prospek film dokumenter itu sendiri adalah hal yang menarik, selain daripada salah satu cara untuk mempersiapkan diri dalam persaingan pasar global dan sebagai filterasi dalam menetralisir dampak negatif dalam perkembangan seni, budaya sosial dan Bangsa yang beradab, beretika, dan berbudi pekerti yang jauh lebih baik.

Dalam hal ini saya juga membaca suatu prospek, dalam hal ini tidak hanya sebuah karya berdampak hanya kepada sutradara atau tim produksi film itu, akan tetapi hal tersebut berdampak pula pada masyarakat sebagai suatu jejak atau produk masa yang akan datang. Di samping itu hal-hal macam ini akan menjadi peta seni budaya masyarakat saat ini yang dapat dikaji secara berkelanjutan oleh generasi penerus bangsa yang bukan hanya berilmu, akan tetapi beradab, beretika dan berwawasan luas sebagai bagian bangsa yang baik.