Social & Culture

Cina Hilang di Tanah Bugis

Penulis : Irfan Palippui

Untuk menggali suatu narasi budaya beserta proses dimulai dari masa lampau, kini dan yang akan datang mungkin dengan performance dan wajah baru, seni adalah salah satu media yang mentransmisikan suatu bentuk-bentuk baru dan akan memunculkan suatu gagasan baru…tumbuh kembangnya narasi I La Galigo dari waktu ke waktu, akan melahirkan suatu paradigma dan gagasan I La Galigo dalam konteks yang berbeda……

inesia.Art – “Alecina (Lahirnnya I La Galigo)”, naskah (Firiansal Sinauleng) dan sutradara (Suaib Syamsul),  baru-baru ini dipentaskan oleh Colliq Pujie Performance, di panggung terbuka Lapangan Gasis Watansoppeng. Pertunjukan ini menjadi rangkaian acara penutupan Festival dan Seminar Internasional La Galigo III yang dihelat dari tanggal 17-23 Desember 2018. Acara berlangsung lewat kolaborasi apik antara Pemerintah Daerah Kabupaten Soppeng dan Fakultas Ilmu Budaya UNHAS.

Selama sepekan, acara bisa direken cukup riuh-gempita dengan kehadiran macam-macam pertunjukan seni dan permainan tradisional, dan berlangsungnya seminar dengan bermacam topik di dalamnya. Untuk peristiwa ini, tepat kiranya kita memberi apresiasi kepada pelaksana; karena upayanya mengingatkan kembali perlunya “kewarasan” para sarjana kita terhadap ilmu pengetahuan; menyadari untuk terus   menggali kemungkinan baru dalam sastra La Galigo; dan sedikit menggeser perhatian kita dari “tsunami politik” beberapa bulan terakhir yang cukup membekukan nalar sehat. 

Setting peristiwa “Alecina” bermula di Aleluwu, selanjutnya, konsentrasi penonton dialihkan ke Alecina. Keberlangsungan peristiwa ini menarik kita pada hilangnya narasi Negeri Cina dalam sejarah Bugis awal. 

“Pemmali, pemmali, pemmali…”, (terlarang!) suara itu bersahutan dari berbagai penjuru Lapangan Gasis Watansoppeng. Mata penonton mencari-cari di mana muara datangnya sahutan. Tekanan seruan itu laiknya pekikan dari langit. Ia seperti peringatan, teror akan munculnya musibah jika tak segera dielak. Suara-suara merangsek, membuat penonton bergeming, lalu fokus lighting pertunjukan menariknya masuk ke sebuah perangkap ruang-waktu; memintanya pulang sejenak ke masa lalu, mengamati dan menggaris-bawahi praktik berjalannya garis waktu.

Begitulah kira-kira kata Pemmali membuka pintu pertunjukan. Kosakata kuno yang masih dipelihara sebagai penegak norma kehidupan. Norma itu isyarat titisan pemilik kuasa langit (Botinglangi) untuk diamalkan di dunia tengah (Alekawa). Kata yang (kira-kira) sampai hari ini masih berdiri di gerbang kebudayaan masyarakat Bugis. 

Cerita berlanjut setelah kabar Pemmaliatau perintah Botinglangi agar menghentikan hubungan terlarang antara si kembar emas Sawerigading dan Tenriabeng. Lalu, terdengar suara Tenriabeng (Andi  Nurul Qalbi) meminta Sawerigading (Alamsyah) berlayar ke Alecina menemui We Cudai (Sri Andira), sang putri di Kerajaan Cina, yang parasnya sepadan dirinya. Kecantikan Putri Cina itu dijadikan sandaran oleh Tenriabeng untuk menangkis murka langit.

Di titik ini, Tenriabeng menunjukkan jalan lain serta menyiasati terjalinnya drama inses sebagaimana berlaku dalam banyak mitologi kuna. Misalnya, tragedi inses Oedipus dan Ibunya, yang akhirnya, membuat para dewa Olimpus murka dan membinasakan negeri Thebes. Sebaliknya, kata Pemmali pada “Alecina” menjadi strategi menolak dan mengelak. Tenriabeng menolak cinta sedarah untuk memutus drama inses, sekaligus, mengelak murka dewa, membuat kita berpaling ke masa lalu di kerajaan Cina. 

Kata Pemmali menyeret Sawerigading ke Alecina. Bersama kedua penasehatnya: La Pananrang dan La Masaguni, tak ada rintangan cukup berarti dihadapinya selama pelayaran; ombak yang ganas dan bajak laut segarang apa pun tak tersisa di tangan mereka. Satu-satunya, tantangan Sawerigading di Alecina adalah tujuannya sendiri. Menaklukkan hati We Cudai, sang penawar luka hati itu, penyelamat umat manusia dari murka dewa disebabkan cinta sedarah, bukanlah hal mudah. Di titik ini, Sawerigading tidak hanya diperhadapkan pada dilema cinta, tetapi pertaruhannya atas nama kebesaran Aleluwu. 

Sikap setara yang ditunjukkan We Cudai bukan hanya menunjukkan imbangnya kekuasaan ekonomi-politik Alecina dan Aleluwu di masa itu, namun turut memberikan kita kesempatan menelaah relasi perempuan dan laki-laki dalam lakon ini. Meski tampaknya sutradara menempatkan We Cimpau (pengasuh I La Galigo, yang mula-mula dinikahi Sawerigading karena penolakan We Cudai) sebagai perempuan kelas kedua, tetapi paling tidak, gelora emansipasi telah cukup kuat diperankan oleh mitologi tersebut. 

Di luar dari pilihan dramaturginya, lakon “Alecina (lahirnya I La Galigo)” bisa disebut sebagai pilihan tendensius, untuk tidak mengatakan bahwa ia sedang mengarahkan kita pada satu pusat tatapan. Pusat tatapan dimaksud adalah negeri Cina. Salah satu negeri yang kerap disebut atau disandingkan dengan negeri Luwu dalam bagian puisi epik La Galigo. Keputusan memusatkan cerita di Allangkangnge ri Alecina ( Istana Negeri Cina) mendorong kita menyelisik pada bagaimana masa lalu dikonstruk lewat mesin kekuasaan, sekaligus menunjukkan betapa kuatnya sastra memonumenkan fakta masa lalu. 

Dalam narasi sejarah, hal mengagetkan adalah tenggelamnya narasi kerajaan Cina (Caldwell mengistilahkan kerajaan di masa itu sebagai masyarakat kompleks), yang dalam temuan arkeologi, pernah berkuasa sekitar 300 tahun sebelum keruntuhannya. Sebagaimana penemuan Ian Caldwell dan Kathryn Wellen dalam, Finding Cina: A new paradigm for early Bugis history (2017), yang menelaah ulang satu rangkaian naskah yang memuat enam silsilah keluarga pembesar di hulu lembah Cenrana, menegaskan bahwa kekuasaan negeri Cina membentang dari Wajo menuju Soppeng, dan bergerak jauh ke tenggara, hingga Bone.

Di hulu lembah inilah dalam tradisi lisan dipercaya berelasi dengan Kerajaan Cina di masa lalu, sebagai lokus kebudayaan Bugis awal. Dari apa yang dibaca Caldwell, silsilah kekerabatan itu memuat sekira 200 orang atau sampai 16 turunan ( dari pendahulu mitis hingga penguasa abad 17). Strategi pokok yang dilihat dari perluasan pengaruh politik kerajaan Cina ini terlihat dari distribusi perkawinan antar elit. Pola ini menyiratkan kepentingan perluasan ekonomi Cina terhadap wilayah-wilayah di sekitarnya.

Selain itu, dari eskapasi yang dilakukan dibekas istana kerajaan Cina (Allangkangnge ri Latanete), di Sarapoe, ditemukan puluhan pecahan keramik dan tembikar yang memukau. Pada survei tahun 2005 (oleh tim OXIS) dilaporkan temuan tidak kurang dari 49 sherds bejana Chizou yang langka dan ditemukannya benda putih-biru yang berasal dari dinasti Ming (lihat Caldwell dan Bulbeck, “Negeri Besi:Tafsir Historis Leluhur Masyarakat Kompleks di Sulawesi Selatan”). Hasil penggalian ini membuktikan hunian elit kerajaan Cina telah dimulai di sekitar tahun 1300. Di hulu lembah inilah dalam tradisi lisan Bugis dipercaya berelasi dengan Kerajaan Cina di masa lalu. 

Cina hilang kemudian ditemukan kembali di negeri Bugis menguatkan argumentasi kita bahwa identitas kebudayaan kita adalah percampuran yang rumit. Ia adalah garis waktu yang begitu panjang, mungkin kita telah berada dalam lapis sekian ribu percampuran DNA kebudayaan, yang menunjukkan bahwa identitas kebudayaan tidaklah beku. Atau, ia tidaklah bersandar pada konstruksi kebiasaan, interaksi, serta sistem hidup yang tunggal. Tetapi, tak lain dari sejarah yang bergerak dan terus merumuskan dan mendefinisikan dirinya lewat mesin waktu.

Mungkin inilah mengapa tokoh I La Galigo dalam lakon “Alecina” menutup pertunjukan dengan bahasa begini: Namaku I La Galigo, lahir dari hubungan yang rumit,.. lalu mempertanyakan siapakah aku yang puluhan ribu tahun lalu, berjalan jutaan kilo meter, keluar dari gurun Sahara Afrika kemudian menempati Leang-Leang di Maros;  siapakah aku yang ribuan tahun lalu meninggalkan daratan indo-Cina; siapakah aku setelah Belanda datang, setelah Islam (monoteisme) masuk? Siapa aku? Aku I La Galigo (masa kini) lahir dari identitas yang kompleks! 

Yogyakarta, 24 Desember 2018, 14:15 WIB