LITERATURE

Mendayung di Antara Dua Arus

Penulis : Ummu Faya

Terkadang kenyataan hidup tidak selamanya berbanding lurus dengan harapan. Harapan adalah salah satu tujuan dan semangat dalam mengarungi arus derasnya cobaan hidup, namun di sana ada sesuatu yang mesti dicapai untuk suatu tujuan hidup yang lebih baik……..

 inesia.Art – Menunggu Zaki yang tak kunjung datang, kaki ini bukan cuma kesemutan tapi juga mulai terasa pegal. Terngiang pesan Zaki, aku dilarang duduk karena ia khawatir jika aku duduk tanpanya, akan ada sesuatu yang membuatku tak nyaman.

Beberapa saat kemudian, Zaki Akhirnya datang juga bersama dengan  senyuman yang selalu menghiasi wajahnya. “Apa kau cukup lelah berdiri? Maafkan kalau aku melarangmu duduk, itu karena aku takut jika yang duduk nanti di sampingmu adalah seorang lelaki.” Ujar zaki sambil memepertahankan keutuhan senyumnya terhadapa Zahra.”Tidak juga, toh aku belum lama menunggumu” Jawabku dan membalas senyumnya.

Tidak lama kemudian merekapun bergegas meninggalkan tempatnya. Di sepanjang jalan, Zahra membuka dan mengupas memori masa lalu. Begitu banyak hal yang terjadi dan sudah dilaluinya, begitu juga mimpi yang telah ia gapai bersama Zaki, tapi semua itu tetap saja belum cukup memuaskan hasratnya, hasrat dengan satu keinginan dan mimpi yang ingin dia wujudkan selama ini, mimpi yang dapat membangkitkan gairah hidup. Akan sangat menyenangkan dapat mempunyai yayasan sosial yang dimana orang-orangnya dari mana saja berkumpul dan bersatu dengan tujuan, membantu sesama manusia yang meembutuhkan. Impian itulah yang selalu mengusik pikirannya, impian yang ia sendiri tidak tau kapan bisa terwujud.

Pagi  itu Zahra akan mengunjungi kawan lamanya, namanya Marni. Di mata Zahra, Marni adalah sosok perempuan luar biasa yang pernah ia kenal, ia bahkan sangat mengaguminya. Ada satu kisah dari Marni yang sungguh menggugah hatinya, kisah yang membawa perasaan sedih, namun karena itu juga yang membuatnya semakin kagum pada sosok Marni.

Suatu waktu Marni membuat suatu keputusan yang sulit dalam hidup sebagai seorang perempuan menurutku. Keputusan yang sulit diterima oleh kaum Hawa, keputusan yang dapat merobek-robek perasaan seorang perempuan. Keputusan yang tidak mudah diterima disaat dia memutuskan menikahkan suaminya dengan seorang perempuan yang bernama Zafirah.

Entah alasan apa Marni mengambil keputusan  seperti itu, saya kira kalau untuk menghindari kasus perselingkuhan, itu bukan jalan satu-satunya. Atau bahkan ini afalah gambaran soaok ketidak berdayaan Marni. Satu alasan tidak pernah diutarakan Marni kepada siapapun, sungguh luar biasa si Marni.

Ya…Setelah berbulan-bulan lamanya tidak pernah bertemu, pagi itu suasana jadi berubah mengharu biru atas pertemuan dua sahabat lama. Beberapa saat mereka melepas rasa rindu, saling berpelukan dan menangis haru. Selepas itu barulah Marni mengajak sahabatnya mengasoh di serambi belakang, sambil menikmati pemandangan sekitar dengan tanaman bunga-bunga di halaman yang tidak begitu luas.

Zahra memperhatikan Marni yang sibuk bolak balik menyiapkan Makanan dan minuman, dan menurutnya tidak ada yang berubah dan berbeda. Marni tetap saja seperti dulu, selalu tersenyum dan sama sekali tidak nampak duka diwajahnya.

Sejujurnya Zahra merasa penasaran, apakah pernikahan kedua suaminya membawa kebahagian atau justru itu keputusan yang salah. Tapi jika melihat penampilannya, Marni tetap terlihat baik-baik saja dan kelihatan ceria. Sejenak, rasa kekhawatiran itu ditepis dan tersenyum melihat Marni.

Sambik menikmati minuman dan makanan ringan yang disediakan Marni, mereka memulai ngobrol dan bercanda ria. Pada saat itu, Zahra mencoba memulai menanyakan kabar anak-anak Marni, dan  memberanikan diri menanyakan soal kabar Haris suami Marni. Marni tersenyum mendengar pertanyaan Zahra yang terdengar agak ragu. “Aku tau kamu pasti akan menanyakan itu!” “Oh…, maaf Marni! Jika kamu tidak ingin menjawabnya juga tidak apa-apa, itu hanya pertanyaan yang mungkin memang tidak perlu kamu jawab.” Timpal Zahra agak kikuk. Marni kembali tersenyum melihat tingkah Zahra yang terlihat salah tingkah. “Zahra, kamu ini bukan hanya sahabat aku, tapi kamu juga sudah aku anggap seperti saudaraku. Sudah saatnya aku bercerita padamu. Bercerita tentang kondisi keluarga kami.” Sesaat Marni kelihatan menarik nafas panjang sebelum ia memulai kisahnya.

Dalam obrolannya, Marni menceritakan pernikahan Haris, suami dari Marni yang merupakan ujian terbesar dalam hidupnya. Pernikahan itu sesungguhnya tidaklah seideal dan semulus sepwrti yang dibayangkan.

Dihari menjelang pernikahan itu, tiba-tiba saja Zafira calon mempelai wanita, memutuskan untuk membatalkan pernikahan itu. Tentu saja ini merupakan kekecewaan bagi Marni dan mungkin juga orang lain. Tidak hanya beban rasa malu yang harus ia tanggung, tapi juga beban hutang yang cukup besar dari pwrsiapan pernikahan itu.“Asal kamu tau Zahra, aku begitu terguncang dengan semua kejadian itu. Dan juga, hutang itu sampai saat ini aku masih menyicil untuk melunasinya.” Marni kembali menghela nafas. “Jadi pernikahan itu tidak jadi berlangsung? Kenapa Safira tiba-tiba membatalkan niatnya? Bukankah ia sudah bisa menerima dirimu, anak-anakmu dan Haris apa adanya?” Tanya Zahra dengan ekspresi wajah yang sedih mendengar penuturan Marni sahabatnya. “Entahlah…! Bisa juga karena menjelang pernikahan, bisnis Haris mengalami kebangkrutan. Ia ditipu oleh rekan kerjanya sendiri. Sebenarnya, saya tulus menikahkan suamiku dengan Zafira, tapi saya juga tidak mengerti mengapa seperti ini. Sejak kejadian itu, hubungan Marni dan Haris mulai renggang. Haris merasa tidak nyaman karena harus terus- menerus menggantungkan hidupnya pada Marni, bahkan hutang pun Marni sendirilah yang berusaha membayarnya.

Haris sepertinya sudah kehilangan pegangan hidup, hidupnya jadi benar-benar berantakan. “Mar, tapi yang aku lihat sekarang kamu baik-baik saja. Aku tidak melihat kamu sedang menderita, justru sebaliknya aku melihatmu begitu tenang sekarang.” Tanya Zahra semakin penasaran dengan kisah hidup sahabatnya. “Itu karena aku telah berdamai dengan semua yang telah terjadi dalam hidupku.

Aku menerima semuanya dengan penuh keihklasan, dan itulah yang membuatku tetap bisa tersenyum meski aku masih dililit hutang.

Perubahan sikap yang terjadi pada diri suamiku Haris, sudah dapat aku maklumi. Aku bisa mengerti jalan pikiran dan perasaan seorang suami yang tidak lagi memiliki pekerjaan. tentunya ia merasa rendah dimata istri yang membuatnya selalu uring-uringan. Tadinya juga aku terbawa arus kemarahan dan kebencian, saya merasa kecewa yang teramat dalam. Aku merasa sudah berada pada titik terendah dalam hidupku, yang membuat aku seperti jadi orang tidak waras lagi.” Jawab Marni sembari mengusap setitik air bening yang keluar dari kelopak matanya yang menatap sayup.

Mendengar jawaban demi jawaban dari Marni, Zahra semakin serius mendengar kisah sahabatnya Marni. “Lalu bagaimana kamu bisa bangkit dari keterpurukanmu itu? Jika aku berada diposisimu, aku bahkan tidak tau apakah aku akan sekuat kamu.” Timpal Zahra yang juga mulai terbawa perasaan melihat Marni mengeluarkan air mata. “Sebenarnya tidaklah mudah, tapi kalau kita melakukannya, kita akan terbiasa kok” dan Alhamdulillah aku masih dan yakin bisa melakukannya. Kesabaran menghadapai suamiku Haris dan beberapa masalah lain, termasuk himpitan ekonomi. Dan Alhamdulillah, pada akhirnya Allah membukakan pintu rahmatnya pada kami sekeluarga. Haris mendapat tawaran kerja lagi, dari sanalah perlahan sikapnya mulai kembali seperti dulu.

Hati Zahra begitu legah mendengar akhir kisah hidup sahabatnya, sungguh luar biasa sosok Marni dimatanya. Tidak semua wanita akan bisa sekuat itu melawan kenyataan pahit dalam hidupnya, tapi Marni sosok perempuan solehah yang begitu kuat.

Bagi Zahra, begitulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang Istri yang solehah. Tidak hanya memikirkan kebahagiannya sendiri, tapi juga kebahagiaan dan keutuhan keluarganya. Hati Marni Bak seluas samudra, yang mampu menampung begitu banyak cobaan. Dan kesabarannya bagai karang yang selalu diterpa gelombang, dipupus walau seribu tahun lamanya. Marni, seperti mendayung diantara dua arus, tapi ia tidak pernah menyerah sampai ia berhasil sampai ketepian. Dan pada akhirnya, Allah mengembalikan semua kebahagiaan yang selama ini hilang darinya, kebahagiaan yang melimpah dengan memiliki keluarga yang zakinah mawaddah warahma.

TAMAT

Kolaka : September 2018