Social & Culture

Budaya Berkesenian : Dari Makna, Kreativitas, hingga Masyarakat

Seni dan budaya merupakan prospek para Seniman dalam mencari suatu “ tujuan”, namun tidak sedikit yang terjebak dalam kebingungan mencari jalan keluar dari beberapa kekeliruan yang terus melilitnya. Meskipun demikian, dari beberapa di antara para seniman justru berpikir akan larut dalam kebingungan adalah jalan lain menuju pintu-pintu pencerahan…..


inesia.Art – Mengenai kebudayaan, hal tersebut merupakan persoalan yang selalu hangat untuk diperbincangkan, mulai dari kalangan akadesmisi hingga masyarakat umum. Di samping itu, kebudayaan merupakan persoalan yang rumit dan kompleks, mulai dari orientasi menggali nilai kearifan lokal juga sekaligus upaya pelestarian.

Berbagai upaya yang dilakukan, namun sampai saat ini belum ada yang mampu menuntaskan permasalahan yang terkait dengan kebudayaan dan saya juga yakin bahwa masalah sepertinya tidak akan ada habisnya.

Meski demikian, sikap pasrah terhadap keadaan tentu bukan jalan satu-satunya, melainkan perlu adanya sikap yang lahir pada pembacaan serius untuk mengatisipasi agar kebudayaan selalu berguna pada peradaban, baik sebagai kekayaan budaya maupun sebagai peningkatan sumber pengetahuan.

Dengan demikian, dalam hal ini saya akan menawarkan suatu pembacaan sederhana dan apa yang akan saya sampaikan tentu saja nantinya bisa saja salah ataupun sebaliknya. Namun itu tidak menjadi soal, yang mesti saya khawatir adalah hal yang kemudian membuat saat untuk berhenti menulis. Sebaliknya salah benar ini merupakan semangat karena sampai saat ini saya masih yakin bahwa selalu ada upaya mencari dan menemukan kebenaran – kebenaran yang akan lahir dalam model pencarian manusia.

Terkait dengan kondisi para seniman hari ini, khususnya pada pekerja seni yang tampak kelihatan bingung dalam menghadapi kondisi sosial hari ini. Sehingga apa yang dilakukan nampaknya menjadi sia-sia atau lebih tepatnya dikatakan tidak sesuai dengan permasalahan dan orientasi yang diharapkan. Orientasi dan permasalahan selalu tidak relevan oleh karena gagalnya pembacaan kompleksitas kebudayaan hari ini, hingga kita tidak sampai pada persoalan atau pokok permasalahan yang harus dituntaskan.

Ada kencenderungan para pelaku kebudayaan, khususnya pelaku seni yang lebih fokus pada ekspresi semata. Bahkan mereka menganggap bahwa seni sebatas media ekspresi. Selain itu, seni dianggap sebagai pengungkapan nilai-nilai sosial yang telah diusung oleh para pendahulu kita dan ujung-unjungnya menuju pada kesenian yang layak jual. Pencapaian akhir dari seorang seniman yang cenderung mengacu pada kreatifitas hanya pada kebaruan  kontinyu yang dianggap tidak sama dengan yang biasanya.

Selain itu, ada anggapan hal itu mampu memperlihatkan kesenian-kesenian yang mempunyai makna yang perlu diungkapkan oleh masyarakat. Makna-makna pun yang dimaksudkan tampak abstrak-. hanya karena adanya keyakinan bahwa kesenian tradisional itu mempunyai makna yang mendalam tapi tidak banyak dari pelaku kesenian yang mampu memperjelas makna seperti apa yang terdapat dalam karya seni yang mereka lakoni selama ini.

Alih-alih seni hanya sebagai produk komersil yang kemudian kembali meng-agung-agungkan bahwa ada makna dibalik karya tersebut. Namun makna yang dimaksudkan hanya sebagai mitos yang dapat meningkatkan daya jual pada sebuah kesenian.

Kondisi seperti ini bisa dikatakan sebagai kekhilafan bagi para seniman. Jika sampai pada tahap tersebut, para pelaku tampak kembali menentukan arah untuk menggali inrformasi terkait dengan kesenian-kesenian tradisional yang didapatkan dari para panre (ahli) atau maestro-maestro seni yang dianggap dapat memberikan informasi yang paling benar terkait kesenian tradosional.

Melalui hal tersebut, keyakinan bahwa informasi terkait nilai kesenian yang didapatkan merupakan orientasi terakhir yang perlu diungkapkan kepada masyarakat umum.  Orientasi semacam ini merupakan upaya sebagai strategi bagi sebagian besar pelaku seni hari ini. Kodisi seperti ini yang terus-menrus akan terjadi sehingga kita tidak punya kesempatan untuk membuka fikiran pada hal yang lebih luas. Sementara kesenian hari ini merupakan percaturan global yang sangat kompleks yang sedang beraksi secara terus menerus dalam ruang sosial kita.

kebudayaan lokal sejak dulu sudah bersentuhan dengan kebudayaan nasional, hingga dunia. Dengan sentuhan dan korelasi antar kebudayaan tersebut, maka sewajarnya saling memberikan pengaruh, baik secara pemaknaan atau secara eksistensi kesenian itu sendiri.

Interaksi antar budaya kemudian mengahsilkan banyak peristiwa menarik yang perlu ditelisik  yang bahkan jadi nilai yang kita yakini bisa terbentuk berdasarkan orientasi dari kebudayan-kebudayan lain diluar dari kebudayaan lokal kita. Interaksi antar kebudayaan ini yang selalu terlupakan oleh sebagian besar seniman hari ini. Hal seperti ini tidak saja terjadi pada komunitas-komunitas seni yang terdapat diberbagai daerah di Sulawesi Selatan namun dalam konteks akademisipun demikian.

Hal ini dapat dilihat terutama dari kurangnya informasi pihak akademisi yang kemudian melahirkan pembacaan serius terkait dengan interaksi antar kebudayaan, khususnya kebudayaan di Sulawesi selatan maupun kebudayaan dari luar. Sehubungan dengan hal tersebut, sehingga suatu kewajaran ketika banyak pelaku seni yang tidak sempat melirik bahwa, interaksi antar budaya merupakan penentu dari eksistensi kesnian dari hari ini sampai hari yang akan mendatang.

Kencederungan ini yang kemudian menjadikan seni sebagai benda kaku. Sehingga tampak bahwa seni hanya melulu tentang representasi peristiwa jaman dulu dan dianggap tidak relevan untuk melibatkan seni pada kondisi politik saat ini. Kita tidak menyempatkan diri untuk memikirkan bahwa bukankah kesenian hari ini dibentuk berdasarkan politik? Dan bukankah kesenian yang kita geluti adalah bagain dari peristiwa sosial yang juga erat kaitannya dengan plolitik?. Tentu ini juga tugas-tugas yang perlu diperhatikan bagi semua kalangan yang bergelut pada dunia kesenian.

Tentu pembacaan ini akan dilihat sebagai wacana recehan dan tidak kontekstual yang kemudian menimbulkan pertanyaan bahwa seniman siapa yang dimaksud? Dan kesenian yang mana?. Namun itu bukan masalah yang mendasar yang ingin saya persoalkan pada tulisan ini. Orientasi yang ingin saya munculkan adalah auto kritik bahwa hari ini kita telah mengalami kegagalan dalam menentukan strategi untuk berkesenian dengan alasan bahwa ; penyebab dari peristiwa tersebut karena gagalnya membaca interkasi antar kebudayaan yang sangat kompleks ini.

Tentu kita tidak berharap bahwa kesenian yang kita geluti ini menjadi alat yang melanggengkan penguasa atau sebagai pencitraan bagi komunitas tempat kita bernaung. Kesenian yang kita geluti adalah menyangkut persoalan yang lebih luas dan lebih mendasar yang terkait dengan kondisi sosial pada setiap zaman. Dari orientasi seperti ini barulah seni dianggap penting dan berguna bagi masyarakat serta selalu relevan dengan kondisi sosial maupun politik kita hari ini.

Takalar 24 Januari 2019