Traditional Dance

Napak Tilas Tari Paduppa : Tari Paduppa dan Permasalahan Hari ini

Napak Tilas Tari Pa’ duppa  yaitu tema diskusi yang dihelat pada hari kamis tanggal 9 Agustus 2018 dipekarangan rumah Burhanuddin Daeng Ngawing di jalan Kacong Daeng Lalang Kelurahan Tombolo Kabupaten Gowa. Ruang diskusi ini diberi nama “Bikin Ribut”  yang dibuat oleh Urban Eggs bekerja sama  dengan beberapa komunitas lainnya yakni SSK (Sanggar Seni katangka), Kontra (Komunitas Tradisi) dan Black Room.

Diskusi ini berlangsung dari pukul 16:00 sampai pada pukul 21:30 WITA dan dihadiri oleh beberapa penggiat seni dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan yakni Pare-pare, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Selayar dan dari kota Makassar.

Seniman Senior dari Kabupaten Gowa yakni Burhanuddin Daeng Ngawing bersama Syarifuddin Daeng Tutu menjadi pemantik diskusi saat itu. Beliau berdua adalah pemusik  tari pa’duppa saat pertamakali diciptakan oleh Andi Nurhani Sapada. Beliau berdua mempunyai pengalaman yang sangat erat dengan terbentuknya Tari pa’duppa karena terlibat langsung menjadi pemusik/pengring tari dan berproses bersama dengan Andi Nurhani Sapada selaku pencipta tari pa’duppa.

Ruang diskusi ini diawali dengan tiga pertunjukan paduppa yang masing-masing mempunyai perbedaan. Partama yaitu pertunjukan dari SSK (Sanggar Seni Katangka) yang menyajikan tari pa’duppa yang dianggap umum dimiliki oleh beberapa komunitas seni di Sulawesi Selatan. Kedua yaitu pertunjukan dari Kontra (Komunitas Tradisi) yang menyajikan tari Pa’duppa hasil kreasi.

Tari Pa’duppa yang disajikan oleh Kontra sangat berbeda dengan pertunjukan Pa’duppa pada umumnya. Pertunjukan yang dibawakan mengalami perubahan mulai dari struktur gerakan hingga musik iringannya. Pertunjukan selanjutnya yaitu tari pa’duppa yang dibawakan oleh dua orang murid Andi Nurhani Sapada yakni Meylania Yulinda dan Sitti Maryam Daeng Taco. Pertunjukan tari Pa’duppa yang disajikan dari kedua murid Andi Nurhani Sapada ini dianggap sebagai tari Pa’duppa orisinal. Ketiga pertunjukan di atas berhasil mengawali diskusi sore itu.

Pa’duppa Dan Ragam Pemaknaan

Penjelasan dari Burhanuddin Daeng Ngawing mengenai arti dari pa’duppa. Beliau mengatakan pa’duppa itu berasal dari bahasa Bugis yang artinya bertemu. Tari pa’duppa yaitu tari penjemputan yang diciptakan oleh Andi Nurhani Sapada yang disuguhkan saat kedatangan tamu waktu beliau masih menjadi Ibu Bupati Sidrap ditahun 70an. Lanjut Daeng Ngawing mengatakan bahwa tari ini diciptakan oleh Andi Nurhani Sapada dengan cara menciptakan gerak dengan menyesuaikan melodi lagu yang populer saat itu.

Lagu yang menjadi musik iringan yaitu lagu Bugis yakni Anak Ma,bura Malik dan Ongkona Sidengreng. Instrument musik yang digunakan yaitu Gendang, Suling, dan Kacaping. Seiring perkembangannya, tarian tesebut direkam dan dibagikan kebeberapa sekolah untuk dijadikan bahan ajaran.

Pendangan lain yang diungkapkan oleh Syarifuddin Daeng Tutu, beliau mengatakan bahwa Pa’duppa artinya pa’dupang (bahasa maskassar) yang artinya Dupa. Dupa dalam kebudayaan suku Makassar dianggap sebagai ikon kesakralan yang biasa digunakan sebagai media  ritual.

Sumber lain juga mengatakan bahwa para penari membawa dupa yang merupakan representasi semacam sifat kesakralan dan kepercayaan tua masyarakat Sulawesi Selatan. Andi Nurhani Sapada sering menggunakan tarian tersebut sebagai tari pembuka pertunjukan untuk permohonan berkah meskipun tarian tersebut bukanlah sebagai penghubung antara masyarakat dan leluhur. (Baca: Sutton)

Selanjutnya kritik yang utarakan oleh Syarifuddin    Daeng Tutu mengatakan bahwa Pa’duppa hari ini tidak punya tujuan atau orientasi karya. Artistik yang dimunculkan seperti tidak punya dasar kebudayaannya. Contoh kasus yang dipaparkan adalah kostum yang telalu dibuat-buat, Selain itu warna kostum tidak lagi diperhatikan sementara dalam budaya Makassar warna kostum masing-masing mempunyai makna tersendiri.

Syarifuddin Daeng Tutu kemudian menegaskan bahwa upaya-upaya kebanyakan seniman saat ini tidak punya etika dalam berkarya. Menurut pengamatan penulis, Etika yang dimaksudkan oleh beliau adalah upaya kreasi yang dilakukan tanpa mengetahui esensi tarian tersebut.

Ungkapan beliau berhubungan dengan proses kreatif yang tidak mempunyai akar kebudayaan (landasan yang berdasar pada kebudayaan lokal). Selain itu beliau juga mengungkapkan bahwa penari yang sering ia jumpai diberbagai acara sudah tidak ditemukan Wirasa, Wirama, Wiraga, Harmonisasi, dan Komposisi, sementara kesemua hal ini merupakan unsur yang terpenting dalam seni tari.

1 2