Traditional Dance

Napak Tilas Tari Paduppa : Transformasi Budaya dan Gerak Tari Masa Kini

inesia.ART – Tulisan ini merupakan ulasan dari hasil diskusi pada tanggal 9 Agustus 2018 di jl.Kacong Daeng Lalang Kabupaten Gowa. yang diprakarsai oleh komunitas Urbaneggs, bekerja sama dengan Kontra (komunitas tradisional).

Terlebih dahulu saya ingin mengatakan bahwa, dalam tulisan ini masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi baik itu dari segi validasi data yang kurang akurat sehingga mengarah pada model pembahasan yang tidak cukup memadai sebagai modal pencerahan. Akan tetapi dengan tulisan ini diharapkan dapat menjadi pemantik untuk mengurai seni dan budaya, terlebih pada tari paduppa itu sendiri, mengurainya dengan pendekatan pengetahuan yang lebih ekspresif.

Suatu gagasan yang baik dengan inisiatif membangun relasi dan tali silaturrahim antara beberapa teman, rekan, sahabat dan lainnya dalam rangka menebarkan pesona pengetahuan melalui suatu ide gagasan. Mengumpulkan premis yang sifatnya tentatif melalui pendekatan “Warkop” dengan menangkap suatu fenomena dalam lingkungan sehari-hari. Salah satunya adalah tari paduppa dalam masyarakat Gowa.

Baca Juga : Kontra dalam bikin ribut- Napak Tilas Tari Paduppa di Kabupaten Gowa

Sebagaimana diketahui bahwa tari paduppa merupakan tari yang sangat familiar di lingkungan masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya daerah Gowa. Tari paduppa dalam kehidupan masyarakat Gowa selalu menempati ruang dimana dia dibutuhkan, baik itu digunakan sebagai acara hajatan, pengantin, penyambutan tamu dalam pemerintahan dan lain sebagainya. Oleh karena itulah tari paduppa menjadi alasan yang paling memiliki daya tarik untuk diketahui sebagai suatu wadah menabur pandangan serta pengetahuan terkait tentangnya. Meskipun masih banyak seni yang lain yang memiliki daya tarik yang lebih lagi.

Diawal pemaparan materi oleh Burhanuddin Daeng Ngawing, beliau menjelaskan latar belakang dan arti tari paduppa. Beliau mengatakan bahwa “ Tari Paduppa dibuat atau diciptakan oleh Andi Nurhani Sapada sekitar tahun 70 an, Tari ini dibuat berdasarkan lagu “Anak Ma’bura Malik” dimana gerakan tari yang dibuat berdasarkan aksen dan alunan lagu tersebut, dengan menggunaka instrumen musik Gendang Makassar, Suling dan kecapi sebagai pengiring. Tari ini sendiri dibuat dengan maksud Penjemputan Tamu kehormatan, judulnyapun sebenarnya adalah “Wellau Dewata Seuwae” yang ketika diterjemahkan kira-kira artinya “Memohon Kepada Tuhan yang Maha Kuasa”.

1 2 3 4