Poetic

Gadis Dalam Lukisan

inesia.Art – Hari ini kurasa hari keberuntunganku, akhirnya Aku bisa membeli galeri lukisan ini meski dengan harga yang cukup mahal. Harganya mungkin dua kali lipat dari harga standar untuk galeri seukuran ini, tapi kurasa wajar semahal itu karena aku membelinya melalui perantara.  Pemiliknya sendiri sudah hampir 2 tahun tidak tinggal lagi dikota ini, itu sebabnya galeri ini  tidak ada yang mengurus.

Aku sudah lama mengincar galeri ini, aku suka karena tempatnya yang strategis. Terletak diantara kafe-kafe yang banyak dikunjungi turis-turis domestik maupun mancanegara. Aku berharap, galeri ini nantinya akan banyak dikunjungi orang yang akan membeli lukisan-lukisan tanganku sendiri. “Amin!” Begitu ucapku dalam hati sebagai do’a dan harapanku.

Baca Juga : Melihat Dalam Gelap

Kubuka pintu galeri yang terbuat dari kaca dengan terali besi dibaliknya. Hamparan debu dimana-mana, seketika udara pengap menyeruak menghambur kearahku. Aku berjalan ketengah ruang, melemparkan pandangan keseluruh arah. Dipojok ruang ada sofa bed dengan meja yang terbuat dari akar pohon, warnanya senada dengan desain ruang mencerminkan selera seni yang klasik. Mataku kemudian tertuju pada sebuah kanvas yang tertutup kain putih disalah satu sudut ruang.

Kudekati dan kusibakkan kain putihnya, warnanya sudah  kecoklatan akibat debu yang bertumpuk. Kulihat lukisan seorang gadis cantik berambut panjang, ukurannya setengah badan. Matanya berbinar tapi mengguratkan kesedihan, bibirnya tersenyum tapi seperti cibiran. Kutatap matanya lebih dalam dan seketika jantungku berdetak kencang. Dalam hati aku berkata bahwa lukisan ini seperti hidup, dan aku sungguh terpesona dengan tatapan matanya. Pada sudut kiri bawah lukisan tertera sebuah nama, ‘Maryam/Patah/Yk 2015.’

Malam bertabur bintang, aku duduk didepan jendela yang menghadap kejalan. Rasanya badan pegal-pegal setelah seharian bekerja membereskan galeri ini, kini udaranya terasa nyaman dan sejuk. Sebagian lukisan sudah tertata rapi, sebagian lagi masih bertumpuk dipojok ruang. Kupejamkan mata dan bersandar pada kursi, kurasakan angin sepoi membasuh wajahku dengan lembut. Entah kenapa, Ingatanku tiba-tiba tertuju pada lukisan yang tertutup kain putih itu.

Aku jadi bertanya-tanya, mengapa pemilik galeri ini tidak membawa serta lukisan itu? Dan siapakah Maryam gadis dalam lukisan itu? Sepanjang jadi pelukis, aku belum pernah melihat lukisan sehidup lukisan Maryam. Bertubi-tubi pertanyaan mengusik pikiranku, membuat aku tak tahan ingin segera melihat lukisan itu lagi. Tapi aku menahan diri, kucoba melupakan wajah gadis dalam lukisan itu. Mengalihkan perhatianku pada desir angin yang terus berhembus lembut, menciptakan irama pada gesekan daun diantara ranting-ranting kering.

Malam pekat tanpa bintang, titik-titik hujan mulai jatuh menyiram bumi. Angin berhembus kencang, mengibaskan daun jendela yang menghadap kejalan. Tidak terasa sudah hampir sepekan aku membuka galeri ini, aku sangat senang karena hampir tiap hari galeri ini selalu ramai pengunjung. Satu yang mengejutkan, tidak sedikit dari pengunjung tertarik membeli lukisan yang tertutup kain putih itu. Diantara pengunjung itu bahkan ada yang menawar harga hingga 50 juta, tapi tentunya aku tidak bisa menjual lukisan yang bukan milikku.

Seperti biasa aku menghabiskan waktu didepan lukisan Maryam sambil menikmati secangkir capucino kesukaanku. Terkadang aku menghabiskan waktu berjam-jam didepan lukisan ini, aku ingin memahami setiap garis yang diciptakan pelukisnya hingga lukisan ini bisa begitu hidup. Jujur saja aku tidak tau, apakah aku benar-benar ingin belajar atau justru aku sudah jatuh cinta pada lukisan ini. Setiap kali menatap matanya, seperti ada getaran dalam hatiku. “Gila…, atau mungkin aku memang sudah gila? Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada sebuah lukisan?”

Kunikmati udara sore yang sejuk dari jendela yang menghadap kejalan, tiba-tiba seorang gadis muncul dari balik pintu masuk galeri. Seorang gadis cantik dengan rambut panjangnya yang dijepit, tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi juga tidak pendek.

Warna kulitnya yang saomatang terlihat lebih terang dengan gaun putih yang dikenakan. Tatapannya tajam berbinar, hidungnya senada dengan garis alisnya yang tertata rapi. Belum lagi bibirnya yang merah merekah bak bunga mawar itu, semakin menambah pesona cantik diwajahnya. Kuhampiri dan kupersilahkan gadis itu masuk dengan ramah.

1 2 3