Modern Dance

Save Our Self

Inesia.ARTketika menatap tubuh sebagai sosok wanita, apalagi tubuh dengan pancaran keseksiannya. Interaksi seperti ini lazim terjadi dimanapun kita berada. Kesadaran hukum, kesadaram rasa, lakon, gerak dalam panggung seni artistik. Ayu Permata Sari merangkum semua dalam satu gumpalan makna yang tersirat di dalam gerak masa kini.

Jika kita bergeser agak ke Timur kota Makassar, kita akan menemukan sebuah gubuk sederhana dengan syarat makna. Ya Rumah Kecil Makassar orang biasa menyebutnya demikian. letaknya di Pannnara’ Antang kota Makassar. Selain sebagai ruang refleksi dari kepenatan gemuruh kota metropolitan, Rumah Kecil juga sebagai ruang kreatif para seniman untuk mengaktualkan karyanya.

Rumah Kecil telah menjadi wadah komunikasi dan silaturrahim para seniman, baik dari seniman lokal maupun dari luar kota seperti dari pulau jawa, Kalimantan dan sumatera.

Baru-baru ini, beberapa hari yang lalu kira-kira. Seniman Tari dari kota Lampung, saya mengenalnya dengan Ayu Permata Sari. Ayu telah mempresentasikan karyanya di Rumah Kecil yang dihadiri oleh beberapa seniman, mahasiswa dan dosen.

Sedikit tentang diri Ayu. Dia adalah seorang penari dari kota Lampung yang telah meniti karirnya di kota Yogyakarta. Ayu menyelesaikan studi strata satu dan strata duanya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan telah banyak mengikuti program pertunjukan tari, baik di skala nasional maupun internasional.

Foto : Pertunjukan Seni Tari S.O.S oleh Ayu Permata Sari di Rumah Kecil, Antang – Makassar.

Ayu pada pertunjukannya di Rumah Kecil mengangkat judul SOS ( Save Our Self ). S.O.S menceritakan tentang kekerasan seksual.

Menurut Ayu, kekerasan seksual terbagi atas dua yaitu kekerasan secara langsung dan kekerasan secara tidak langsung. Kekerasan secara langusung seperti pemerkosaan, sodomi plecehan seksual lainnya sementara kekerasan secara tidak langsung itu terjadi seringkali seperti misalnya jika seorang lelaki menatap kemolekan tubuh wanita dari kejauhan dan bersiul.

1 2