Music Studies

Toa-Adzan Dalam Perspektif Musikologi Part ll

Inesia.ARTMasih dalam Fenomena pengaturan perangkat loud speaker dan Adzan dari segala persoalannya. Mencoba memandang fenomena itu dari kacamata musikologi, barangkali dengan begitu dapat menemukan sesuatu…..

Tulisan diawal Toa-Adzan part 1 yang memuat tentang fenomena pengaturan perangkat dan suara Adzan dan beberapa faktor dan indikator dari sekian banyak faktor maupun indikator yang ada.

Meskipun kita tidak harus terburu-buru menentukan ataupun menyimpulkan suatu hal yang bisa menyebabkan kesalah pahaman, akan tetapi dengan hal tersebut sekiranya dapat dipikirkan bersama sebagai bentuk kontribusi dalam upaya untuk kebaikan bersama.

Bukan hanya sekedar duduk sambil ngoceh kesana-kemari sama persis kayak pujangga mabok yang lagi menjajakan puisinya.

Di zaman sekarang, zaman dengan segala bentuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentu saja sedikit banyaknya membawa dampak perubahan dan sistem sosial masyarakatnya. Dampak perubahan itu bisa sangat beragam dimulai dari pertumbuhan ekonomi secara cepat, praktik penyalahgunaan kekuasaan, praktik politik pragmatis yang berdampak pada pembentukan masyarakat sensitif.

Akhir-akhir ini kita sering menjumpai suatu praktik-praktik yang dimaksud, termasuk-orang-orang sekitar saya mengatakan suatu gugatan soal penggunaan perangkat loud speaker dan Adzan sebagaimana yang telah disinggung pada tulisan sebelumnya (part satu).

Jika melihat beberapa aturan pada tahun 1978 Dirjen Bimas Islam kementerian Agama tentang instruksi pengaturan perangkat dan Adzan di Masjid, Langgar dan Mushalla yang terdiri  dari lima point.

Masing-masing point berisi tentang hal-hal tang sebaiknya dilakukan seperti perawatan perangkat sound sistem, kafabilitas atau kemampuan seseorang dalam sistem pengoperasian perangkat Adzan, tidak dengan Sotta-sotta (merasa tahu sesuatu).

Pentingnya tentang kafabilitas seorang muadzin, Qori (a), Imam Masjid dalam mengumandangkan, “melagukan” atau membaca ayat suci Al Qur’an. Mengatur mengenai tidak terlalu meninggikan suara do’a  dzikir dan shalat. Tidak hanya itu, dalam hal ini juga perlunya diperhatikan tentang orang yang mendengarkan harus dalam keadaan siap atau bukan dalam keadaan tidur, istirahat sedang beribadah dan sedang dalam upacara.

Di point ini saya agak kurang paham, soalnya kontennya mungkin agak dilematis bahwa, jika dalam keadaan siap yang dimaksud adalah kesiapan dalam melakukan ibadah shalat dan sementara hal itu tidak boleh mengganggu orang yang sedang tidur, istirahat, sedang beribadah dan sedang upacara, mungkin saja ini maksudnya adalah sebaiknya Masjid berbunyi pada saat waktu shalat sudah masuk.

Tuntunan Nabi soal suara adzan memang harus ditinggikan sebagai tanda masuknya waktu shalat dan tidak ada perdebatan soal penggunaan pengeras suara. justru dalam hal tersebut, ditekankan agar muadzin tidak sumbang. Sebaliknya harus enak merdu dan syahdu.

Kata Cericerichan.blogspotCom, ketika  saat dimana penetapan tanda bagi muslim dalam melaksanakan shalat, seorang Muadzin mesti atau sebaiknya yang mempunyai suara merdu dan lantang. Hal ini merujuk pada saat Rasulullah meminta Bilal Al Arabah untuk mengumandangkan Adzan sebagai tqnda masuknya waktu shalat. Rasulullah lebih memilih Bilal dibanding dengan sahabatnya Abdullah Bin Zaid (sahabat Rasul bermimpi tentang lafaz Adzan)dan yang lainnya.

Menurut Rasul Bilal memiliki suara yang merdu dan lantang. Maka setelah Rasul meminta Abdullah Bin Zaid menemui dan meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan tersebut, maka naiklah Bilal Al Arabah ditempat ketinggian. (H.R Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Tirmidzi ) menurut Tirmidzi hadist ini hasan shahih.

Ketika meninjau beberapa poin pengertian sebagaimana suatu ketetapan pemerintah dalam hal ini, kita kembali melihat sejauh mana maksud atau isi poin dari pada pengaturan yang ditetapkan oleh pemerintah tersebut. Pada dasarnya aturan tersebut bisa berarti baik dan bisa berarti tidak baik. Dalam arti bahwa ketika suara adzan dianggap suatu gangguan maka perlu suatu peninjauan atau penyelidikan secara mendalam penyebab suatu maslah itu muncul.

Wokeilah…kita lihat adzan dan perangkatnya. Adsan pada umumnya dikumandangkan dengan pengeras suara yang umumnya kita kenal loud speaker, sound sistem dan sejenisnya. Perangkat ini dimaksudkan untuk menggandakan bunyi supaya dapat terdengar dalam radius ratusan meter yang diperuntukkan bagi kaum muslimin untuk menunaikan shalat berjamaah di Masjid.

Jika suara adsan dianggap suatu gangguan bagi sebagian orang yang merujuk pada sistem pengoperasian perangkat dan jumlah volume dalam desible (dB). Maka ini bukanlah suatu alasan yang mutlak ketika kita meninjau dari volume db nya. Sebagaimana kita tau bahwa adzan dikumandangkan dalam waktu-waktu tertentu saja, tidak dalam suatu waktu yang terus menerus berbunyi dilokasi dimana kita berada.

Jika dengan adzan dianggap dapat merusak pendengaran, kesehatan atau kenyamanan, mestinya kita lebih sibuk mengurus soal bagaimana kebisingan-kebisingan yang ada di pasar-pasar, Mall, suara kendaraan pada saat sibuk, suara mesin induastri dan sejenisnya. Bukankah itu lebih berdampak buruk.

1 2