Music Studies

Jangan – Jangan Tidak ada Musisi di Makassar

Inesia.ARTMusisi dan ruang-ruang perhelatan seni tidak terkhusus pada musik. Oleh karena itu dibutuhkan suatu hidrolik buat mengangkat sesuatu yang tertimbun di antara belantara zaman dengan konsumsi populis, dengan begitu bagaimana seharusnya….?

Ketika saya mengatakan bahwa “jangan-jangan tidak ada musisi di Makassar” maka orang-orang disekitar saya terdiam sejenak dan kembali mempertanyakan tentang pernyataan saya.

Peryataan ini saya kemukakan secara spontan saja sih, saat ketika saya mengamati ruang-ruang perhelatan musik di Makassar. Kelihatannya musik nampak sebagai benda yang tidak begitu penting ketimbang seni-seni lainnya, hal ini nampak pada kurangnya wacana musik yang segar dan memberi stimulasi para musisi-musisi muda untuk menghasilkan karya-karya baru.

Di sisi lain ada beberapa komunitas yang fokus bergelut pada musik namun nampaknya tidak terlalu menarik untuk di wacanakan, baik dari persoalan gagasan maupun secara artistik (musik itu sendiri). Hal ini semakin membuat saya yakin bahwa jangan-jangan tidak ada musisi di Makassar…!

Sanggar, Komunitas, atau UKM  seni yang dianggap sebagai lembaga-lembaga yang potensial untuk merayakan perhelatan kesenian, namun tidak untuk musik. Pasalnya, setiap lembaga dominan memelihara Tari ketimbang musik dan begitu banyak musisi yang hanya sekedar meng-aktualisasikan dirinya sebagai pengiring tari. Kenapa demikian.? Hemat saya, tari khususnya. Pada tari tradisi dianggap penting karena sudah mempunyai ruang, baik di acara perkawinan hingga acara-acara perayaan lainnya.

Jarang mungkin bisa dikatakan begitu menemukan orang yang punya hajatan mencari musik-musik penjemputan berbeda dengan tari. Setahu saya tidak ada musik penjemputan, yang ada hanyalah tari penjemputan. Pointnya adalah, apakah karena kurangnya kebutuhan musik sehingga tidak penting musik untuk diwacanakan.?

Jika iya, mengapa para musisi tidak punya keresahan untuk kembali mewacanakan tentang ruang-ruang perhelatan musik di Makassar.? Saya tidak cukup sabar ingin melihat upaya-upaya musisi untuk menciptakan ruang perhelatan musik seperti halnya BMB di Solo, atau Festival Musik Tradisi Baru di Yogya.

1 2