Poetic

MELIHAT DALAM GELAP

Inesia.ARTCeritera “Melihat dalam Gelap” merupakan karya Noveĺ yang ditulis oleh A Rach dengan gagasan agak menyeramkan, misterius, tragis pada bagian awal…tapi kenyataannya tidaklah demikian. Pada bagian agak ke tengah malah kok terasa romantis…..hmmm atau karena yang menyeramkan itu mempunyai sisi romantis yang tersembunyi….?

AKU BARU SAJA PULANG DARI PEMAKAMAN RIANTI

Aku baru saja pulang dari pemakaman. Pemakan seorang sahabat, seorang kekasih, sahabatku terkasih, kekasihku tersayang. Sampai saat ini aku sendiri tidak tau harus menyebutnya sebagai apa, sebagai kekasih atau sebagai sahabat.

Tapi kurasa saat ini semua itu tidaklah penting, yang jelas aku sangat menyayanginya. Bagaimana tidak, karena dia akhirnya aku dapat melihat dunia meski tidak untuk selamanya. Dan yang terpenting, karena dia aku dapat melihat wajah seorang yang paling berjasa dan terpenting dalam hidupku, wajah kakak tersayangku.

Seorang biasanya menganggap kedua orang tuanya itulah yang paling berjasah dan terpenting dalam hidup seorang anak, tapi mungkin aku pengecualian dari sekian puluh juta anak dimuka bumi ini yang tidak menganggapnya demikian.

Sejujurnya aku tidak pernah berniat merendahkan kedudukan seorang ibu atau ayah dimata anaknya, tapi kenyataannya demikianlah yang terjadi pada diriku.

Sebelumnya aku mohon maaf yang sedalam-dalamnya pada ibu dan ayahku yang terhormat, aku harus mengatakan ini semua meski tarasa perih mengenang masa itu.

Selama ini aku tidak pernah berbicara dengan mulutku dihadapanmu, atau didepan siapapun karena aku masih menghormatimu. Kali ini ijinkan aku berbicara dengan tanganku, mungkin inilah satu-satunya cara yang bisa aku tempuh untuk bisa mengatakan sakit hatiku padamu.

Aku menyadari, dengan bertaburnya benih-benih dendam dalam dada ini, telah menjadikan aku dalam golongan anak-anak durhaka. Tapi aku pun sangat percaya dan menyakini, Tuhan tidak akan serta-merta melemparkanku pada siksa api neraka tanpa menimbangnya seadil mungkin terlebih dahulu.

Kawan, terkadang aku ingin sekali punya alasan untuk bisa menyayangi kedua orang tuaku yang terhormat itu, tapi sungguh aku tak memiliki apapun untuk melakukannya. Aku bahkan mencari-cari alasan itu pada setiap jengkal tanah yang pernah aku lewati disepanjang hidupku, mencarinya disetiap gilasan roda waktu dalam desah nafasku.

Tapi kenyataan berkehendak lain, satu-satunya yang bisa aku temukan hanyalah pada saat ibu meregang nyawa ketika melahirkanku kedunia ini. Dan untuk itu pulalah aku masih menyimpan hormat untuknya, selebihnya aku hanya menemukan kehampaan.

Dalam benak aku selalu bertanya, dimanakah dada ibu tempat aku seharusnya bersandar saat aku menangis? Saat aku merasa takut, kemanakah tangan ayah tempat aku seharusnya berlindung? Tempat aku bersandar, merebahkan kepala, dan tangan yang senantiasa melindungi dan membelai dengan penuh kasih semua, hanyalah milik kakakku seorang…..Bersambung……!!!

Baca Lanjutannya Disini : Melihat Dalam Gelap

 

Kolaka – Sulawesi Tenggara