Poetic

MELIHAT DALAM GELAP 2

Ceritera “Melihat dalam Gelap” kali ini merupakan sambungan dari novel minggu lalu yang ditulis oleh A Rach kali ini mengetengahkan citra penokohan dan sosok sebagai  orang tua sebagai dari Arya Putra Dewa Indra, Nadya Putri Dewi Candra dan sosok seorang Rianti……oh Rianti…..!!! apakah makaud dari sosok Rianti dalam cerita ini…..?

AKU BARU SAJA PULANG DARI PEMAKAMAN RIANTI

Inesia.ART – Namaku Arya Putra Dewa Indra, sebuah nama yang indah nan perkasa menurutku. Aku anak lelaki tunggal dari istri ayahku yang ke dua. Dari istrinya yang pertama aku memiliki seorang kakak perempuan yang bernama Nadya Putri Dewi Candra, sebuah nama yang indah nan anggun menurutku. Konon nama-nama itu diberikan oleh kakek buyutku yang punya keturunan bangsa India. Dan dari istri ayahku yang ke tiga, aku memiliki dua orang adik lelaki kembar yang diberi nama Satria dan Satrio Wijawa.

Wijaya adalah nama ayahku, dan nama itu hanya melekat dibelakang nama anak-anak dari istri ayahku yang ketiga. Mungkin ayah beranggapan, kalau aku dan kakak perempuanku tersayang tidak pantas menyandang namanya. Kakakku Putri Candra dewi adalah anak perempuan yang jauh dari harapannya, sementara aku hanyalah seorang anak lelaki yang dianggap pembawa sial kerena cacat. Entahlah, tapi setidaknya begitu yang aku rasakan.

Sebulan setelah istri pertamanya dipanggil Tuhan, ayahku menikahi ibuku. Dan sebulan setelah aku lahir, ayahku menikah lagi dengan istri ke tiganya. Saat aku masih berada dalam kandungan, betapa kelahiranku dinantikan dengan sejuta do’a dan harapan. Sampai hari itu tiba, diamana aku memperdengarkan tangisku yang pertama dimuka bumi ini, aku terlahir sebagai anak lelaki yang sehat dan normal. Pecahlah tangis bahagia itu, aku telah memenuhi harapan dan impian dari ayahku. Sejak awal Ayah sangat mendambakan anak lelaki, lelaki yang kelak dapat diandalkan dan dibanggakan. Anak lelaki, adalah lambang dari sebuah kehormatan bagi ayah dan kesempurnaan dalam keluarga.

Kawan, Jelang seminggu umurku malapetaka itu datang menghampiri nasibku. Mengubur impian ayahku, menggilas semua kebahagiaan yang ada disekitarku. Entah apa dan mengapa, selama tiga hari aku diserang demam tinggi yang membuat tubuh kecilku lunglai tak berdaya. Dan tepat di umurku yang ke tujuh hari, dokter menjatuhkan fonis itu. Fonis yang langsung memporak-porandakan hati ayah dan ibuku. Kawan…, aku mengalami buta permanen, kebutaan yang pada saat itu tidak dapat diobati. Dan sejak saat itulah, aku dianggap sebagai aib keluarga. Dianggap sebagai anak pembawa sial, anak lelaki yang tidak berguna dan pastinya tidak dapat dibanggakan. Mendengar itu semua dari penuturan perempuan tua yang mengasuhku sejak kecil, lalu bagaimana bisa aku punya rasa yang lain selain dendam kepada ayah dan ibuku yang terhormat itu? Inilah kenyataannya, dan siapapun boleh menyalahkanku, membenciku atau bahkan mengutuk diriku atas dendam ini.

Sejak aku mulai mengerti pergantian hari, ada siang dan malam, ada bulan, bintang dan matahari, sepanjang itu aku sudah merasakan perih yang tak berujung dalam hatiku. Hari ini, perih itu kian terasa menusuk jantungku. Bagaimana tidak, selain dari kakak perempuanku, aku tidak pernah merasakan cinta kecuali dari kekasihku Rianti.

Rianti yang hari ini telah menutup episode dalam hidupnya, Rianti yang hari ini telah pergi meninggalkanku untuk selamanya, Rianti yang hari ini aku baru saja pulang dari pemakamannya. Oh Tuhan, betapa pilu hati ini! Rasanya lebih perih dari sayatan sembilu. Engkau sang pencipta jiwa, mengapa kau renggut kebahagiaanku…! Rianti adalah perempuan luar biasa kedua setelah kakak perempuanku yang pernah aku kenal. Rianti adalah perempuan berhati emas dengan cinta dan kasihnya yang tiada batas. Seumur hidup, mungkin aku tidak akan pernah bisa melihat dunia jika tidak karenanya. Betapa tidak, mata yang kini tersimpan dibalik kelopak mataku adalah milik Riantiku terkasih. Ya Tuhan…, mungkin Riantiku telah lelah menceritakan tentang indahnya gemintang dilangit, atau ia terlalu ingin memintaku melihat sendiri kunang-kunang dengan pendar cahayanya yang katanya indah itu.

Oh Tuhanku sang pemilik keabadian, aku tidak tau apakah aku harus bahagia tau merasa sedih atas penglihatan ini! Di satu sisi kini aku dapat melihat dengan kedua bola mata ini, tapi disisi lain pada saat yang bersamaan aku kehilangan pendengaranku dari celotehnya dihari-hari yang tersisa ini. Oh Riantiku…! Riantiku sayang…! Dengan tubuh berjalan gontai, kini hanya air mata yang mengiringi langkahku meninggalkan semua kenangan tentangnya.

Bersambung lagi ya kawans……!!!

 

Kolaka ; Sulawesi Tenggara