Poetic

MELIHAT DALAM GELAP PART III

Inesia.ART“Melihat dalam Gelap” merupakan karya Novel yang ditulis oleh A Rach, penggambaran sosok pemuda yang merasa terpuruk dan berjuang seolah-olah ingin membuktikan diri sebagai sosok yang kuat dan pantas dibanggakan……apakah serpihan kebanggaan pemuda itu, apakah pemuda itu adalah gambaran serpihan kesombongan ataukah sebagai serpihan luka dan pengorbanan yang mendalam….aahh kita coba menelusuri saja…

AKU BARU SAJA PULANG DARI PEMAKAMAN RIANTI

Mentari pagi menyusup dari celah tirai jendela kamarku, membasuh wajah yang pucat ini dengan lembut. Seiring dengan belai lembut dari tangan yang lembut, kakakku menitipkan kecup dikedua keningku. Sesaat mataku berkejap kejap, seketika cahaya terang seakan menusuk kedua bolamataku. Terhitung baru tiga hari aku memiliki penglihatan, aku belum terbiasa melihat terang saat kubuka mataku. Beberapa saat aku baru bisa menangkap wajah kakakku, ternyata aku lebih mengenali sentuhannya dari pada menatap wajahnya.

Kucuba mengingat-ingat apa yang terjadi, dan seingatku aku baru saja pulang dari pemakaman. “Sayang, kamu harus bisa mengubur semua kesedihanmu. Riantimu akan kecewa jika ada hari yang berlalu tanpa senyum, kegembiraan dan semangat darimu.” Mendengar kata Rianti, nafasku jadi sesak seakan ada benda besar yang menghimpit dada ini. Rianti…Riantiku telah tiada, berarti ini adalah hari pertama aku hidup tanpa Riantiku. Kutatap wajah kakaku dalam-dalam. “Bagaimana bisa aku tersenyum, sementara orang yang selalu membuatku tersenyum telah pergi meninggalkanku.”

Senyumnya menghilang dari bibirnya yang tipis, matanya yang sayu mulai bekaca-kaca. “Adikku sayang, siapa bilang Riantimu pergi meninggalkanmu? Selamanya ia tidak akan pernah jauh darimu, bolamata yang ia titipkan dibalik kelopak matamu itu akan melihat setiap jengkal waktu yang kamu lewati. Dan disini, aku kakakmu selalu ada untukmu.” Aku bangkit dari tidur dan memeluk kakakku, kurebahkan kepalaku dibahunya dengan air mata berlinang. “kak Nadya, aku berjanji akan berusaha memenuhi harapanmu.

Tapi aku mohon berjanji pulalah padaku, jangan pernah memberiku sesuatu apapun itu, akan tetapi kemudian menghilang dari hidupku seperti Rianti. Aku tidak menginginkan apapun dalam hidup ini, kecuali dirimu yang selalu menemaniku.” Seperti biasa, kakakku selalu menenangkan perasaan kalut dalam hatiku dengan belaiannya yang lembut. Seiring sinar mentari yang beranjak pergi, kesedihanku pun mulai memudar dalam dekapan kakakku tercinta.

Hari ini kulalui tanpa Rianti hingga mentari mulai terbenam, udara mulai terasa sejuk dengan hembusan angin sepoi-sepoi.  Jalan-jalan didesa ini mulai ramai dengan penduduknya yang baru saja pulang dari sawah, ada yang pulang dengan karung-karung beras dipanggul dan ada pula yang jalan sambil menunutun ternaknya. Pantas saja Riantiku selalu tertawa jika ia menceritakan pemandangan ini jikala berjalan menyusuri desa, ekspresi orang-orang ternyata sungguh beraneka ragam.

Apalagi saat ini orang-orang itu menatapku dengan cara yang aneh, mungkin mereka terkejut melihatku berjalan sendiri. Orang-orang itu tau kalau gadis yang selama ini selalu menemaniku telah tiada, tapi sepertinya mereka tidak tau kalau bolamata Riantilah yang menuntunku berjalan sendiri hari ini. Beberapa diantara mereka melemparkan pertanyaan dengan ragu, “Sudah sehat mas Arya?” Kubalas hanya dengan senyum dan segera berlalu dari hadapannya, aku belum terbiasa berkomunikasi dengan orang-orang kecuali dengan kakak dan Riantiku.

1 2 3